Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW merupakan salah satu tradisi sosial dan budaya yang mengakar kuat di masyarakat Aceh. Tradisi ini tidak hanya memiliki dimensi religius, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat. Di sejumlah daerah di Aceh, pelaksanaan Maulid dilakukan dengan beragam cara dan format, tergantung pada tradisi lokal dan konteks sosial setempat.
Salah satu contoh pelaksanaan yang menarik adalah kegiatan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Desa Blang Bladeh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, yang berlangsung pada hari Minggu, 5 Oktober 2025. Acara ini menampilkan bentuk peringatan yang sederhana dan berfokus pada penerimaan tamu serta makan bersama tanpa adanya ceramah agama atau kegiatan dakwah formal.
Meskipun tanpa unsur seremonial keagamaan, acara ini tetap memiliki makna sosial dan budaya yang kuat. Melalui kegiatan makan bersama dan penerimaan tamu, masyarakat Desa Blang Bladeh menunjukkan bentuk nyata dari nilai persaudaraan, keterbukaan, dan penghargaan terhadap tamu yang merupakan elemen penting dalam budaya masyarakat Aceh.
Kegiatan Maulid di Desa Blang Bladeh diselenggarakan secara mandiri oleh masyarakat setempat dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari tokoh masyarakat, pemuda, hingga ibu rumah tangga. Tujuan utama kegiatan ini bukanlah pada aspek seremonial keagamaan, melainkan menjalin dan mempererat hubungan sosial antara masyarakat desa dengan tamu undangan dari berbagai kalangan, baik dari dalam maupun luar desa.
Masyarakat Aceh memandang kegiatan jamuan makan bersama dalam peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad saw sebagai simbol penghormatan dan rasa syukur. Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas sosial masyarakat. Dalam konteks ini, Maulid berfungsi sebagai ruang sosial yang menghubungkan masyarakat lintas status dan wilayah, memperkuat jaringan sosial, dan mempererat hubungan antara warga dengan para pemimpin desa dan daerah.
Kegiatan Maulid ini dilaksanakan di Desa Blang Bladeh menjadi salah satu bentuk aktualisasi nilai-nilai tersebut. Masyarakat berinisiatif melaksanakan acara dengan sederhana namun tertata menunjukkan semangat kebersamaan yang tinggi dan kesiapan untuk menjaga tradisi lokal di tengah perkembangan zaman.
Acara peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Desa Blang Bladeh berlangsung dengan suasana yang tertib dan penuh kekeluargaan. Panitia pelaksana dibentuk secara gotong royong oleh warga setempat, yang terdiri dari unsur tokoh masyarakat, pemuda, dan kaum ibu. Persiapan dilakukan beberapa hari sebelumnya, mencakup penataan lokasi, penyiapan peralatan jamuan, dan koordinasi dengan tamu undangan.
Pada hari pelaksanaan, kegiatan dipusatkan di halaman meunasah (balai gampong) Desa Blang Bladeh. Sejak pagi, masyarakat mulai berdatangan membawa aneka hidangan khas Aceh yang akan disajikan kepada tamu. Tidak ada ceramah agama atau tausiyah, karena kegiatan ini sepenuhnya difokuskan pada penerimaan tamu dan makan bersama dalam suasana penuh keakraban.
Hidangan yang disiapkan merupakan hasil bawaan masyarakat, dengan menu tradisional seperti nasi,lauk pauk kari daging, ayam tangkap, serta aneka kue khas Aceh. Semua tamu, baik dari kalangan masyarakat biasa maupun pejabat daerah, duduk bersama menikmati jamuan tanpa perbedaan tempat duduk. Kesederhanaan ini justru menambah makna kebersamaan dan menunjukkan kesetaraan sosial di antara seluruh anggota masyarakat.
Pada acara maulid ini hadir Anggota DPRA, atau Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Aceh,atau sekaligus pemilik Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen, yaitu Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si. Kehadiran beliau mendapat sambutan hangat dari masyarakat karena dikenal sebagai tokoh publik yang aktif dalam dunia pendidikan dan sosial di Kabupaten Bireuen.
Selain itu juga hadir pula Camat Kecamatan Jeumpa, Bapak Rusli, S.Sos., M.M, yang didampingi oleh tokoh masyarakat setempat, di antaranya Tu Khaidar, Abi Yus, serta Keuchik Desa Blang Bladeh, Para pemuda desa juga ikut terlibat dalam penyambutan tamu dan penataan acara, dan memperlihatkan antusiasme dan rasa tanggungjawab terhadap tradisi sosial yang diwariskan turun-temurun.
Kehadiran para pejabat tersebut menjadi pertanda bahwa acara ini tidak hanya memiliki makna sosial, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Suasana makan bersama berlangsung santai, penuh keakraban, dan memperlihatkan semangat kebersamaan tanpa jarak antara masyarakat dan pemimpin desa dan daerah.
Secara sosiologis, kegiatan peringatan Maulid di Desa Blang Bladeh mencerminkan bagaimana tradisi keagamaan dapat bertransformasi menjadi kegiatan sosial yang memperkuat struktur komunitas. Makan bersama sebagai bentuk utama perayaan tidak hanya berfungsi sebagai sarana konsumsi kolektif, tetapi juga simbol persatuan dan kesetaraan sosial di tengah masyarakat.
Bahwa dalam konteks budaya Aceh, jamuan makan pada acara Maulid disebut kenduri maulid, yang umumnya dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang ekonomi atau jabatan. Di Desa Blang Bladeh, hal tersebut tampak nyata ketika pejabat, tokoh masyarakat, dan warga duduk bersama menikmati hidangan yang sama.
Selain itu nilai sosial, acara ini juga memiliki dimensi budaya yang kuat. Tradisi kenduri menjadi sarana pewarisan nilai-nilai lokal kepada generasi muda. Keterlibatan pemuda dan perempuan dalam persiapan menunjukkan adanya proses regenerasi sosial yang sehat, di mana nilai gotong royong dan kepedulian sosial terus dipertahankan. Dengan demikian, kegiatan ini dapat dipahami sebagai bentuk rekonseptualisasi tradisi Maulid, dari peringatan ritual keagamaan menjadi ajang memperkuat solidaritas sosial yang berlandaskan budaya lokal. Dalam kesempatan tersebut, Dr. H. Amiruddin Idris,SE.,M.Si menyampaikan rasa apresiasi terhadap masyarakat Desa Blang Bladeh yang telah melaksanakan acara tersebut dengan semangat kebersamaan.
Analisis Sosial dan Budaya Secara ilmiah, kegiatan seperti peringatan Maulid di Desa Blang Bladeh dapat dikaji melalui pendekatan antropologi budaya dan sosiologi masyarakat pedesaan. Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat mampu menjaga kearifan lokal di tengah perubahan sosial yang dinamis: Bahwa disisi antropologis; kegiatan makan bersama mencerminkan sistem nilai masyarakat Aceh yang menempatkan tamu sebagai bagian penting dari struktur sosial. Dalam budaya lokal, menjamu tamu bukan hanya bentuk sopan santun, tetapi juga ekspresi identitas dan kehormatan komunitas.
Selain itu dari perspektif sosiologi; acara ini memperlihatkan kuatnya kohesi sosial dalam masyarakat pedesaan. Gotong royong, partisipasi kolektif, dan kesetaraan sosial yang muncul dalam pelaksanaan acara menunjukkan adanya solidaritas mekanik istilah yang digunakan Émile Durkheim untuk menggambarkan masyarakat tradisional yang terikat oleh nilai dan norma bersama.
Disamping itu dari aspek budaya kontemporer; pelaksanaan Maulid tanpa ceramah agama menunjukkan bentuk adaptasi terhadap kebutuhan masyarakat yang lebih menekankan kebersamaan sosial dibandingkan ritual formal. Hal ini menegaskan bahwa tradisi dapat bertransformasi tanpa kehilangan makna dasarnya.Dari perspektif ilmiah, acara ini mencerminkan fungsi sosial dari tradisi budaya dalam memperkuat solidaritas komunitas, menjaga identitas sosial, dan membangun integrasi antarwarga. Oleh karena itu, kegiatan semacam ini layak dipertahankan dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Aceh yang sarat nilai sosial dan kebersamaan.
Penulis:
Yusri,S.Sos.,M.Si.,M.S
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisniss Uniki Bireuen





Users Today : 20
Users Yesterday : 197
This Month : 1999
This Year : 1999
Total Users : 6918
Views Today : 165
Total views : 24882
Who's Online : 2
Tinggalkan Jejak dengan berkomentar
Belum ada komentar. jadilah yang pertama!