Mahasiswa KKM Tematik sebagai Garda Pemulihan: Kepemimpinan Mahasiswa UNIKI dalam Recovery Pascabanjir dan Lumpur di Kabupaten Bireuen-Aceh

Mahasiswa KKM Tematik sebagai Garda Pemulihan: Kepemimpinan Mahasiswa UNIKI dalam Recovery Pascabanjir dan Lumpur di Kabupaten Bireuen-Aceh
Bireuen, dailyinews.com -

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana alam yang tinggi. Kondisi geografis, topografi, serta faktor iklim menjadikan berbagai wilayah rawan terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Provinsi Aceh, yang memiliki wilayah pesisir, dataran rendah, dan daerah aliran sungai yang luas, termasuk daerah yang sering terdampak bencana alam, khususnya pada musim hujan.

Pada tanggal 26 November 2025, banjir bandang (flash flood) melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatra, termasuk Kabupaten Bireuen. Peristiwa tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur, terendamnya permukiman warga, serta tertutupnya fasilitas sosial dan keagamaan.

Seperti Dayah, meunasah, balai pengajian, dan kantor-kantor pemerintahan desa mengalami gangguan fungsi akibat endapan lumpur dan material banjir. Kondisi ini berdampak langsung terhadap aktivitas ibadah, pendidikan keagamaan, serta pelayanan publik.

Dalam hal ini, peran perguruan tinggi menjadi sangat strategis. Perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan, tetapi juga memiliki kewajiban moral dan sosial.

Selain terlibat aktif dalam membantu masyarakat, khususnya pada saat terjadi bencana. Hal ini sejalan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen, sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi di Kabupaten Bireuen, merespons cepat bencana tersebut dengan menginisiasi berbagai kegiatan kemanusiaan. Salah satu bentuk konkret dari respons tersebut adalah pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Tematik Pascabencana.

Namun dengan keterlibatan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta pimpinan universitas. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada bantuan fisik, tetapi juga bertujuan membangun kesadaran sosial, kepemimpinan, dan karakter kemanusiaan mahasiswa.

Artikel ini secara khusus mengkaji pelaksanaan KKM Tematik Pascabencana yang dilakukan mahasiswa UNIKI Bireuen di Desa Weu Jangka, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, pada hari sabtu tanggal 3 Januari 2026, dengan fokus pada kegiatan pembersihan Dayah Al-Ikhlas.

Penulisan artikel ini bertujuan untuk mendokumentasikan praktik baik (best practice) pengabdian kepada masyarakat berbasis kebencanaan serta menegaskan peran strategis mahasiswa dalam proses pemulihan pascabencana.

Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Konsep ini menempatkan perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial yang tidak hanya memproduksi pengetahuan.

Akan tetapi juga mentransformasikannya ke dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks kebencanaan, pengabdian kepada masyarakat menjadi instrumen penting untuk mendorong pemulihan, mitigasi risiko, serta peningkatan kapasitas masyarakat terdampak.

Beberapa kajian menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian mampu meningkatkan sensitivitas sosial, empati, serta kompetensi kepemimpinan. Mahasiswa tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga pelaku perubahan yang berkontribusi langsung terhadap penyelesaian persoalan nyata di masyarakat.

Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Tematik merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dirancang berbasis isu atau tema tertentu, seperti lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan kebencanaan.

Berbeda dengan KKM reguler, KKM Tematik lebih terfokus pada permasalahan spesifik yang dihadapi masyarakat, sehingga kegiatan yang dilakukan lebih terarah dan berdampak nyata.

Dalam konteks pascabencana, KKM Tematik berfungsi sebagai sarana pembelajaran kontekstual (contextual learning), di mana mahasiswa terlibat langsung dalam proses pemulihan fisik, sosial, dan psikologis masyarakat. Melalui keterlibatan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman empirik yang memperkaya pembelajaran akademik sekaligus membentuk karakter sosial.

Gotong royong merupakan nilai lokal yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Indonesia. Dalam situasi bencana, gotong royong menjadi modal sosial yang sangat penting untuk mempercepat proses pemulihan.

Kerja bersama secara sukarelawan(Valunteer)  memungkinkan masyarakat dan relawan(Valunteer)  untuk saling mendukung, berbagi sumber daya, serta membangun kembali fasilitas yang rusak.

Kegiatan dilaksanakan pada Selasa, 3 Januari 2026, bertempat di Desa Weu Jangka, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, dengan lokasi utama Dayah Al-Ikhlas. Program ini merupakan bagian dari KKM Tematik Pascabencana Banjir Bandang Aceh yang diinisiasi oleh Rektor UNIKI Bireuen, Dr. Zainuddin Iba, S.E., M.M., dan dikoordinir oleh Wakil Rektor III, Dr. Kamaruddin, M.M., sebagai Ketua Panitia UNIKI Peduli Bencana.

Desa Weu Jangka, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, merupakan salah satu wilayah yang terdampak banjir bandang pada 26 November 2025. Banjir membawa material lumpur yang masuk ke dalam permukiman warga dan fasilitas umum, termasuk Dayah Al-Ikhlas sebagai pusat pendidikan dan aktivitas keagamaan masyarakat setempat.

Dayah Al-Ikhlas memiliki peran penting dalam kehidupan sosial-religius masyarakat. Selain sebagai tempat pendidikan santri, dayah juga menjadi pusat kegiatan pengajian, pembinaan moral, serta aktivitas sosial kemasyarakatan. Tertutupnya fasilitas ini akibat lumpur pascabanjir berdampak pada terhentinya sementara aktivitas pendidikan keagamaan dan ibadah masyarakat.

Kegiatan KKM Tematik Pascabencana di Desa Weu Jangka dipimpin langsung oleh Presiden Mahasiswa UNIKI Bireuen, Sdr. Putri Zianby Cintami, dan Wakil Presiden Mahasiswa, Sdr. Melly Sukma Fitri. Keterlibatan pimpinan organisasi mahasiswa ini menunjukkan bentuk kepemimpinan partisipatif, di mana mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga penggerak utama kegiatan sosial.

Peran pimpinan mahasiswa sangat penting dalam mengoorganisir anggota, membagi tugas, serta menjaga semangat kolektif di lapangan. Kepemimpinan yang ditunjukkan dalam kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran praktis bagi mahasiswa dalam mengelola organisasi, membangun komunikasi, dan menyelesaikan masalah secara kolaboratif.

Fokus utama kegiatan adalah pembersihan lumpur di Dayah Al-Ikhlas sebagai bagian dari upaya pemulihan fasilitas pendidikan dan ibadah. Pembersihan dilakukan secara manual dengan menggunakan alat-alat kerja sederhana.

Seperti cangkul, sapu lidi, sekop (skrup), dan gerobak beroda (grek). Metode manual dipilih karena keterbatasan alat berat di lokasi serta untuk memaksimalkan partisipasi langsung mahasiswa.

Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja dengan tugas yang terstruktur, mulai dari pengangkatan lumpur, pembersihan lantai dan dinding, hingga pengangkutan material ke tempat pembuangan sementara. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana gotong royong dan solidaritas, dengan melibatkan masyarakat setempat secara aktif.

Keberhasilan kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan penuh pimpinan Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Bireuen. Inisiasi langsung oleh Rektor UNIKI Bireuen, Dr. Zainuddin Iba, S.E., M.M., menunjukkan komitmen institusi dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat secara nyata. Sementara itu, koordinasi teknis di lapangan dilakukan oleh Wakil Rektor III, Dr. Kamaruddin, M.M., sebagai Ketua Panitia.

Keterlibatan dosen, tenaga kependidikan, karyawan, para dekan, dan unsur lembaga lainnya memperkuat sinergi internal universitas. Hal ini menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya tugas mahasiswa, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh sivitas akademika.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi media pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Mahasiswa belajar langsung mengenai realitas sosial, dinamika masyarakat pascabencana.

Selain pentingnya kerja kolektif dalam menyelesaikan permasalahan. Nilai-nilai seperti empati, kepedulian sosial, tanggung jawab kemanusiaan, dan kepemimpinan semakin terinternalisasi melalui praktik nyata di lapangan.

Pelaksanaan KKM Tematik Pascabencana oleh mahasiswa Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Bireuen di Desa Weu Jangka, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, merupakan wujud konkret implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan yang dipimpin oleh Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa, serta didukung penuh oleh pimpinan universitas dan sivitas akademika, telah memberikan kontribusi nyata dalam pemulihan fasilitas sosial dan keagamaan pascabencana banjir bandang.

Melalui pembersihan Dayah Al-Ikhlas, kegiatan ini tidak hanya membantu pemulihan fisik lingkungan, tetapi juga memperkuat nilai solidaritas, gotong royong, dan karakter kemanusiaan mahasiswa. KKM Tematik terbukti efektif sebagai model pengabdian kontekstual yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan kebutuhan riil masyarakat.

Dengan demikian, Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Bireuen menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang responsif terhadap persoalan sosial dan kebencanaan, sekaligus sebagai agen perubahan dalam pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.

Penulis:
Yusri,S.Sos.,M.Si.,M.S
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisniss UNIKI Bireuen

Support Kami dengan share artikel ini !

Shares

Tinggalkan Jejak dengan berkomentar

Belum ada komentar. jadilah yang pertama!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *