Ekonomi Aceh Tumbuh Moderat, Budaya Meugang Jadi Penggerak Mikro yang Tak Tergantikan

Ekonomi Aceh Tumbuh Moderat, Budaya Meugang Jadi Penggerak Mikro yang Tak Tergantikan
Bireuen, dailyinews.com -

Editor: Yusri,S.Sos.,M.Si.,M.S

TEMA: Membangun Ekonomi Berkelanjutan Berbasis Budaya: Inspirasi dari Tradisi Meugang di Aceh

Provinsi Aceh kembali mencatat pertumbuhan ekonomi yang stabil namun moderat pada tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia, ekonomi Aceh tumbuh sekitar 4,66 persen pada 2024 dan diperkirakan akan berada di kisaran 4,8 persen sepanjang 2025.

Angka ini masih berada sedikit di bawah rata-rata nasional, tetapi menunjukkan konsistensi dan daya tahan ekonomi daerah di tengah berbagai tekanan, mulai dari penurunan aktivitas industri besar hingga ketergantungan terhadap dana otonomi khusus (Otsus).

Di balik angka-angka statistik yang sering kali hanya menjadi sorotan para ekonom dan pejabat pemerintah, ada denyut ekonomi yang lebih sederhana namun sangat nyata: tradisi Meugang.

Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan sekadar tradisi menyambut Ramadan, Idulfitri, atau Iduladha. Ia adalah bagian dari identitas sosial, kearifan lokal (budaya), dan pada saat yang sama, menjadi penggerak ekonomi mikro yang tak tergantikan di provinsi paling barat Indonesia ini.

Tradisi yang Menghidupkan Pasar

Setiap kali Meugang tiba, pasar-pasar tradisional di seluruh Aceh berubah menjadi pusat keramaian. Sejak subuh, warga berbondong-bondong datang untuk membeli daging sapi, kambing, atau kerbau.

Harga daging melonjak, tetapi permintaan tetap tinggi. Dalam budaya Aceh, tak membeli daging saat Meugang dianggap “kurang sempurna” dalam menyambut bulan suci. Tradisi ini telah berakar sejak masa Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636 M), ketika sang raja memerintahkan penyembelihan hewan dan membagikan daging kepada rakyatnya sebagai wujud rasa syukur dan kemakmuran kerajaan.

Ratusan tahun kemudian, makna Meugang masih sama  kebersamaan, syukur, dan berbagi. Namun kini, ia juga membawa dimensi ekonomi yang tak bisa diabaikan. Setiap Meugang, ribuan ekor ternak disembelih.

Permintaan terhadap daging melonjak tajam, mendorong aktivitas di sektor peternakan, perdagangan, transportasi, dan kuliner. Bagi banyak peternak dan pedagang kecil, inilah momen emas untuk mendapatkan keuntungan lebih besar dibanding hari-hari biasa.

Di pasar tradisional Lambaro, Aceh Besar, misalnya, harga daging bisa naik 30 – 50 persen dari harga normal. Namun pedagang justru bersyukur, karena pembeli datang tanpa tawar-menawar panjang. “Orang Aceh kalau Meugang, tidak peduli harga.

Yang penting ada daging di rumah,” ujar seorang pedagang dengan senyum lebar. Fenomena ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat Aceh pada momen Meugang menjadi pendorong kuat sektor perdagangan dan jasa lokal.

Stimulus Ekonomi dari Dapur Masyarakat

Jika ditelaah lebih dalam, tradisi Meugang berperan seperti stimulus ekonomi alami. Pemerintah mungkin menggelontorkan anggaran triliunan untuk program pemulihan ekonomi, tetapi di Aceh, budaya mampu menciptakan efek serupa secara mandiri.

Meugang mendorong perputaran uang yang signifikan di tingkat rumah tangga. Masyarakat membeli daging, bumbu, rempah, buah, hingga perlengkapan memasak. Pedagang bahan makanan, tukang potong hewan, hingga penjual sirup dan kue ikut merasakan lonjakan omzet.

Selain sektor perdagangan, peternakan lokal juga menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan. Permintaan yang melonjak membuat banyak peternak harus menambah pasokan dari daerah lain, bahkan dari Sumatera Utara. Aktivitas ini menciptakan rantai ekonomi baru  mulai dari peternak, distributor, hingga transportasi antarprovinsi. Dalam konteks ekonomi daerah, hal ini menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu menggerakkan sektor riil secara luas.

Meski bersifat musiman, efek Meugang terhadap perekonomian lokal sangat terasa. Ia memperkuat konsumsi rumah tangga, yang menurut data BPS, menjadi penyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh. Ketika daya beli masyarakat meningkat, sektor perdagangan dan jasa ikut hidup, dan pada akhirnya membantu menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi daerah.

Dimensi Sosial dan Keadilan Ekonomi

Meugang bukan hanya tentang pesta daging. Di dalamnya terkandung nilai solidaritas dan keadilan sosial. Masyarakat Aceh dikenal dermawan. Mereka yang mampu akan membagikan sebagian daging kepada tetangga yang kurang beruntung, anak yatim, atau keluarga miskin.

Inilah bentuk redistribusi ekonomi berbasis nilai-nilai keislaman yang telah mengakar kuat di Tanah Rencong. Nilai ini sejalan dengan prinsip pertumbuhan inklusif(Ketercakupan) pertumbuhan yang tidak hanya dirasakan oleh kalangan atas, tetapi juga menyentuh lapisan bawah.

Ketika kegiatan ekonomi nasional sering kali terfokus pada sektor besar seperti industri dan investasi asing, Meugang mengingatkan kita bahwa daya tahan ekonomi sejati justru tumbuh dari akar sosial masyarakat.

Tradisi ini membuat uang beredar di pasar lokal, meningkatkan konsumsi, dan menjaga interaksi sosial tetap hidup. Hal-hal inilah yang menjadikan ekonomi Aceh tetap bergerak, meski tak secepat provinsi lain.

Tantangan dan Harapan Menuju 2026; Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi Aceh yang berkisar antara 4,6 hingga 4,8 persen menunjukkan bahwa provinsi ini masih menghadapi tantangan struktural.

Selain itu, ketergantungan terhadap dana Otsus, minimnya investasi swasta, serta rendahnya nilai tambah dari hasil pertanian dan peternakan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Agar ekonomi Aceh dapat tumbuh lebih cepat, dibutuhkan upaya diversifikasi dan penguatan sektor produktif.

Di sinilah peran Meugang bisa diperluas. Pemerintah daerah dapat menjadikannya momentum untuk mengembangkan rantai nilai ekonomi baru  misalnya melalui industri pengolahan daging, promosi wisata kuliner khas Aceh.

Disamping itu, hingga sertifikasi produk halal yang bisa menembus pasar nasional dan ekspor. Dengan strategi yang tepat, Meugang bukan lagi sekadar perayaan tahunan, tetapi dapat menjadi ikon ekonomi daerah yang memberi kontribusi nyata terhadap PDRB.

Proyeksi Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Aceh dapat mencapai 5,2 persen pada tahun 2026, dengan catatan ada peningkatan investasi dan penguatan sektor riil. Tradisi Meugang, dengan semua nilai sosial dan ekonomi yang dikandungnya.

 Selain itu, dapat menjadi bagian penting dari strategi tersebut bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga sebagai motor mikro yang menjaga denyut ekonomi rakyat.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, Aceh memiliki kekuatan unik: budaya yang hidup dan memberi manfaat nyata bagi warganya. Meugang bukan sekadar kenangan masa lalu, tetapi bukti bahwa budaya dan ekonomi dapat berjalan beriringan, saling menguatkan.

Namun dengan suasana kebersamaan, aroma daging yang dimasak di setiap rumah Aceh bukan hanya tanda datangnya Ramadan, melainkan juga simbol dari semangat ekonomi rakyat yang terus berputar hangat, sederhana, namun penuh makna.

Di tengah angka-angka ekonomi yang sering terasa jauh dari kehidupan rakyat, Meugang menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati Aceh tidak hanya lahir dari kebijakan dan investasi, tetapi dari keikhlasan, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakatnya.

Tradisi yang diwariskan berabad-abad ini bukan sekadar pesta daging, melainkan napas ekonomi rakyat  tempat di mana tangan-tangan kecil peternak, pedagang, dan ibu rumah tangga saling bertemu dalam irama rezeki dan doa.

Maka, ketika angka pertumbuhan ekonomi Aceh tampak moderat di atas kertas, sesungguhnya di balik itu mengalir ekonomi yang hidup, hangat, dan bermakna ekonomi yang digerakkan oleh budaya yang tak tergantikan: Meugang.

Selain itu, Aceh mungkin tumbuh moderat di atas kertas, namun di hati masyarakatnya, ada pertumbuhan yang lebih bermakna: pertumbuhan rasa saling peduli, berbagi, dan percaya bahwa keberkahan rezeki akan datang saat kita memberi, bukan hanya menerima.

Selama api Meugang terus menyala di dapur-dapur Aceh, ekonomi daerah ini tak akan pernah benar-benar padam  karena di balik setiap potongan daging yang dimasak dengan cinta, tersimpan semangat hidup yang menjaga Aceh tetap berdiri, berdenyut, dan berbahagia.

Penulis:
Zulfannur,S.Pd,
Guru Pengjian Peusantren Al-Hidayah, dan
Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Al-Hidayah
Kecamatan Peulimbang Kabupaten Bireuen

Support Kami dengan share artikel ini !

Shares

Tinggalkan Jejak dengan berkomentar

Belum ada komentar. jadilah yang pertama!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *