Seni Tutur Aceh Menuju Senyap: Tantangan Kearifan Lokal di Tengah Perubahan Sosial dan Pendidikan

Seni Tutur Aceh Menuju Senyap: Tantangan Kearifan Lokal di Tengah Perubahan Sosial dan Pendidikan
Bireuen, dailyinews.com -

Editor: Yusri,S.Sos.,M.Si.,M.S

Aceh dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan khazanah budaya dan tradisi lisan. Budaya tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan nilai, pembentukan karakter, serta penguatan identitas kolektif masyarakat. Salah satu warisan budaya yang memiliki peran strategis tersebut adalah seni tutur Aceh.

Namun demikian, dalam beberapa dekade terakhir, seni tutur Aceh menunjukkan gejala kemunduran yang cukup mengkhawatirkan. Keberadaannya kian jarang dijumpai dalam kehidupan sosial masyarakat, baik di lingkungan keluarga maupun dalam ruang publik. Kondisi ini memunculkan kegelisahan budaya, terutama di kalangan pemerhati seni dan akademisi.

Judul “Seni Tutur Aceh Menuju Senyap: Tantangan Kearifan Lokal di Tengah Perubahan Sosial dan Pendidikan” secara tegas menggambarkan dua persoalan utama. Pertama, realitas keterampilan seni tutur yang memang tidak mudah dikuasai dan membutuhkan latihan serta penguasaan bahasa, irama, dan konteks budaya yang mendalam. Kedua, sikap generasi muda yang cenderung kurang memberi perhatian terhadap seni tradisi, akibat kuatnya arus globalisasi dan budaya populer.

Artikel ini berupaya mengkaji persoalan tersebut secara akademik, dengan menempatkan seni tutur Aceh sebagai objek kajian utama serta menyoroti peran pendidikan tinggi, khususnya melalui kontribusi Umul Aiman, S.Pd., M.Pd., sebagai Kaprodi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI Bireuen.

Seni Tutur Aceh sebagai Warisan Budaya Takbenda, disamping itu seni tutur merupakan bentuk ekspresi budaya lisan yang disampaikan melalui ujaran, irama, dan struktur bahasa tertentu. Dalam konteks Aceh, seni tutur tidak sekadar berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai media transmisi nilai-nilai sosial, religius, dan etika.

Sebagai warisan budaya takbenda, seni tutur Aceh memiliki karakteristik utama, yaitu diwariskan secara lisan, bersifat kontekstual, dan hidup dalam praktik sosial masyarakat. Keberadaannya sangat bergantung pada kesinambungan generasi, baik dari sisi pelaku maupun pendengarnya.

Berbeda dengan seni pertunjukan modern yang dapat direkam dan direproduksi secara masif, seni tutur menuntut kehadiran langsung antara penutur dan audiens. Di sinilah letak keunikan sekaligus kerentanannya. Ketika rantai pewarisan terputus, seni tutur berpotensi mengalami kepunahan secara perlahan.

Beragamnya Seni Tutur Aceh seperti: Peuratep Aneuk, Seumapa, dan Mop-mop;  Peuratep aneuk merupakan seni tutur yang lazim digunakan dalam konteks pengasuhan anak. Tradisi ini berfungsi sebagai media pendidikan awal yang sarat dengan nilai kasih sayang, doa, serta harapan orang tua terhadap masa depan anak. Melalui bahasa yang lembut dan ritmis, peuratep aneuk menanamkan nilai moral dan spiritual sejak usia dini.

Namun, perubahan pola pengasuhan modern dan pergeseran peran keluarga menyebabkan praktik peuratep aneuk semakin jarang dilakukan. Banyak orang tua lebih memilih media digital sebagai sarana hiburan anak, sehingga interaksi budaya lisan mulai terpinggirkan.

Selain itu,Seumapa adalah seni tutur yang biasa digunakan dalam upacara adat, terutama dalam prosesi pernikahan dan pertemuan resmi. Seni tutur ini menuntut kemampuan berbahasa yang tinggi, penguasaan metafora, serta pemahaman mendalam terhadap adat istiadat Aceh.

Tidak semua orang mampu melakukan seumapa. Dibutuhkan keahlian khusus yang diperoleh melalui proses belajar dan pengalaman panjang. Inilah sebabnya jumlah pelaku seumapa semakin terbatas, sementara regenerasi berjalan sangat lambat.

Selanjutnya, Mop-mop merupakan bentuk seni tutur yang bersifat humoris dan reflektif. Melalui sindiran halus dan cerita ringan, mop-mop menyampaikan kritik sosial dan pesan moral. Seni tutur ini memiliki fungsi hiburan sekaligus edukasi, yang memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat.

Sayangnya, mop-mop juga menghadapi tantangan serius akibat pergeseran selera hiburan masyarakat yang lebih condong pada konten instan dan visual.

Tak Banyak yang Mampu: Realitas Keterampilan Seni Tutur, Seni tutur Aceh bukanlah keterampilan yang dapat dikuasai secara instan. Penguasaan bahasa Aceh yang baik, pemahaman konteks adat, kemampuan vokal, serta kepekaan budaya merupakan prasyarat utama. Proses pembelajaran seni tutur umumnya bersifat informal, melalui pengamatan dan praktik langsung dalam kehidupan sosial.

Ketika ruang sosial yang mendukung pembelajaran tersebut semakin menyempit, kemampuan seni tutur pun menjadi langka. Kondisi ini memperkuat kritik bahwa “tak banyak yang mampu”, bukan semata-mata karena kurangnya bakat, tetapi karena minimnya ruang dan sistem pembelajaran yang berkelanjutan.

Tak Banyak yang Peduli: Sikap Generasi Kontemporer, Selain persoalan kemampuan, seni tutur Aceh juga menghadapi tantangan dari sisi sikap dan kepedulian generasi muda. Globalisasi budaya dan penetrasi teknologi digital telah mengubah orientasi nilai dan preferensi hiburan. Seni tradisi sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan dengan kehidupan modern.

Kurangnya integrasi seni tutur dalam sistem pendidikan formal turut memperparah kondisi ini. Tanpa upaya sistematis untuk mengenalkan dan mengajarkan seni tutur sejak dini, kepedulian generasi muda akan semakin menurun.

Peran Pendidikan Tinggi dalam Pelestarian Seni Tutur Aceh, Pendidikan tinggi memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan seni tutur Aceh. Melalui tridharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—Universitas Islam Kebangsaan Indonesia(UNIKI) dapat menjadi pusat revitalisasi budaya lokal.

Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen, khususnya melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), memiliki peran penting dalam upaya tersebut. Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan menjadi wadah akademik yang relevan untuk mengkaji, mengembangkan, dan mentransmisikan seni tutur Aceh kepada generasi muda.

Perhatian dan Kontribusi Umul Aiman, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI Bireuen, menunjukkan perhatian yang konsisten terhadap pelestarian seni budaya Aceh, khususnya seni tutur sebagai kearifan lokal yang kian tenggelam.

Sebagai dosen pengampu mata kuliah Seni Tutur Aceh, Umul Aiman tidak hanya menempatkan seni tutur sebagai objek kajian teoritis, tetapi juga sebagai praktik budaya yang harus dihidupkan kembali. Pendekatan ini mencerminkan kesadaran akademik bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui dokumentasi, melainkan melalui pewarisan aktif.

Melalui kegiatan pembelajaran, diskusi akademik, dan keterlibatan mahasiswa dalam praktik seni tradisi, upaya revitalisasi seni tutur Aceh dapat dilakukan secara berkelanjutan. Peran dosen dalam hal ini menjadi sangat krusial sebagai agen transformasi budaya.

Seni Tutur Aceh Menuju Senyap: Sebuah Refleksi Kritis, Ungkapan “menuju senyap” bukan sekadar metafora, melainkan peringatan akan potensi hilangnya seni tutur Aceh dari ruang hidup masyarakat. Jika tidak ada upaya serius dan terstruktur, seni tutur hanya akan menjadi catatan sejarah tanpa praktik nyata.

Refleksi kritis ini menuntut kolaborasi berbagai pihak, mulai dari keluarga, komunitas adat, institusi pendidikan, hingga pemerintah daerah. Pendidikan tinggi, melalui figur akademisi seperti Umul Aiman, memiliki peran strategis dalam menjembatani tradisi dan modernitas.

Seni tutur Aceh merupakan bagian integral dari identitas budaya masyarakat Aceh yang sarat nilai dan makna. Kritik “tak banyak yang mampu dan tak banyak yang peduli” menggambarkan tantangan nyata yang dihadapi seni tutur di era kontemporer.

Melalui peran pendidikan tinggi dan komitmen akademisi, seni tutur Aceh masih memiliki peluang untuk direvitalisasi dan diwariskan kepada generasi mendatang. Upaya pelestarian ini bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga tentang merawat jati diri dan kearifan lokal Aceh agar tidak benar-benar tenggelam dalam senyap.

Penulis:
UmulAiman,S.Pd.,M.Pd
Koprodi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Uniki Bireuen.

Support Kami dengan share artikel ini !

Shares

Tinggalkan Jejak dengan berkomentar

Belum ada komentar. jadilah yang pertama!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *