Transportasi merupakan sektor strategis dalam pembangunan nasional karena berperan sebagai penghubung aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya masyarakat. Infrastruktur transportasi yang andal tidak hanya mempercepat mobilitas manusia dan barang, tetapi juga menjadi indikator kemajuan suatu wilayah.
Dalam konteks Provinsi Aceh, pembangunan rel kereta api menjadi salah satu proyek infrastruktur penting yang bertujuan meningkatkan konektivitas antarwilayah pesisir dan pedalaman serta menekan biaya transportasi masyarakat.
Pembangunan rel kereta api di Aceh mulai menunjukkan hasil nyata sejak tahun 2019 dengan beroperasinya lintasan Krueng Geukueh–Cot Tufah Kuta Blang, Kabupaten Bireuen. Jalur ini dimanfaatkan oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari siswa sekolah, mahasiswa, pedagang, hingga masyarakat umum.
Dengan tarif yang relatif murah dibandingkan modal transportasi darat lainnya seperti bus dan angkutan umum, kereta api menjadi alternatif transportasi yang aman, efisien, dan terjangkau.
Namun demikian, kondisi geografis Aceh yang rawan bencana alam, khususnya banjir dan longsor yang terjadi Pada tanggal 26 November 2025.,menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan infrastruktur rel kereta api.
Selain bencana banjir besar disertai aliran lumpur melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatra, termasuk Kabupaten Bireuen. Bencana ini menyebabkan kerusakan parah pada rel kereta api, stasiun, dan jembatan penunjang jalur rel.
Kerusakan tersebut tidak hanya berdampak pada terhentinya operasional kereta api, tetapi juga menimbulkan potensi risiko keselamatan yang sangat besar apabila jalur rel kembali diaktifkan tanpa perbaikan menyeluruh.
Oleh karena itu, artikel ini penting untuk mengkaji kondisi kerusakan rel kereta api pascabencana, dampaknya terhadap masyarakat, serta urgensi pembangunan kembali oleh pemerintah pusat sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam menjamin keselamatan dan kesejahteraan rakyat.
Sejarah dan Peran Strategis Rel Kereta Api di Aceh, Pembangunan rel kereta api di Aceh merupakan bagian dari program nasional pengembangan infrastruktur transportasi berbasis rel di luar Pulau Jawa.
Namun Jalur Krueng Geukueh–Cot Tufah Kuta Blang yang mulai beroperasi sejak tahun 2019 hingga 2025 telah menjadi tulang punggung transportasi darat di wilayah Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, dan Cot Tufah Kuta Blang Kabupaten Bireuen.
Secara sosial, kehadiran kereta api memberikan kemudahan akses bagi siswa dan mahasiswa untuk menjangkau sekolah dan perguruan tinggi. Banyak pelajar dari daerah pinggiran yang mengandalkan kereta api sebagai sarana transportasi utama.
Selain biaya yang murah dan waktu tempuh yang relatif stabil. Dari sisi ekonomi, pedagang kecil dan pelaku usaha mikro memanfaatkan kereta api untuk distribusi barang dan mobilitas usaha.
Disamping itu, kereta api juga berkontribusi dalam mengurangi beban lalu lintas jalan raya serta menekan risiko kecelakaan lalu lintas. Dengan kapasitas angkut yang besar dan tingkat emisi yang lebih rendah dibandingkan kendaraan bermotor, transportasi kereta api juga sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Bencana Banjir dan Kerusakan Infrastruktur Rel Kereta Api, bencana banjir dan lumpur yang terjadi pada 26 November 2025 merupakan salah satu bencana alam terbesar yang melanda Aceh dalam beberapa tahun terakhir.
Curah hujan yang tinggi menyebabkan meluapnya sungai-sungai utama dan membawa material lumpur, batu, serta kayu ke berbagai wilayah permukiman dan infrastruktur publik.
Berdasarkan pengamatan lapangan, rel kereta api di Kabupaten Bireuen mengalami kerusakan yang sangat serius. Alas rel (balas) banyak yang terseret arus air dan lumpur, menyebabkan rel tidak lagi berada pada posisi yang stabil. Di beberapa titik, rel terlihat berserakan dan terangkat dari bantalan aslinya, sehingga secara teknis tidak layak untuk dilalui kereta api.
Kerusakan juga terjadi pada sejumlah stasiun penting, seperti Stasiun Krueng Geukueh, Stasiun Bungkah Jembatan Bungkah, Stasiun Krueng Mane, hingga Stasiun Cot Tufah Kuta Blang di Kabupaten Bireuen. Selain itu, beberapa jembatan rel kereta api di wilayah Aceh Utara yang terhubung langsung dengan lintasan tersebut juga mengalami kerusakan struktural.

Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana alam tidak hanya berdampak sementara, tetapi juga mengancam keberlanjutan fungsi infrastruktur transportasi apabila tidak segera ditangani secara serius dan komprehensif.
Risiko Keselamatan dan Potensi Korban Masyarakat, salah satu isu paling krusial pascabencana adalah risiko keselamatan masyarakat apabila operasional kereta api kembali diaktifkan tanpa rekonstruksi total. Jalur rel yang rusak, bantalan yang hilang, serta jembatan yang tidak stabil sangat berpotensi menyebabkan kecelakaan serius.
Masyarakat Kabupaten Bireuen, khususnya orang tua dan tenaga pendidik, menyampaikan kekhawatiran besar terhadap keselamatan anak-anak sekolah yang selama ini menggunakan kereta api sebagai Alat Angkut (Moda transportasi utama).
Apabila kereta api dioperasikan kembali dalam kondisi rel yang belum diperbaiki secara menyeluruh, risiko jatuh korban jiwa tidak dapat dihindari.
Dalam perspektif keselamatan transportasi, prinsip utama yang harus dipegang adalah keselamatan sebagai prioritas tertinggi. Operasional transportasi publik tanpa jaminan keselamatan yang memadai merupakan pelanggaran terhadap hak dasar masyarakat untuk mendapatkan perlindungan dari negara.
Urgensi Perhatian Pemerintah Pusat, melihat tingkat kerusakan dan dampak sosial yang ditimbulkan, masyarakat Kabupaten Bireuen sangat mengharapkan adanya perhatian khusus dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perhubungan Republik Indonesia di Jakarta. Pembangunan kembali rel kereta api yang rusak harus menjadi agenda prioritas nasional, mengingat fungsinya yang strategis bagi masyarakat Aceh.
Rekonstruksi tidak hanya sebatas perbaikan fisik rel, tetapi juga harus mencakup penguatan struktur jembatan, peningkatan sistem drainase di sekitar jalur rel, serta penerapan standar keselamatan yang lebih ketat untuk menghadapi potensi bencana alam di masa depan.
Selain itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal sangat diperlukan agar proses pembangunan kembali dapat berjalan efektif, transparan, dan tepat sasaran.
Dampak Sosial-Ekonomi Jika Rekonstruksi Tidak Segera Dilakukan, apabila pembangunan kembali rel kereta api tidak segera dilakukan, masyarakat Aceh, khususnya di Kabupaten Bireuen, akan menghadapi berbagai dampak sosial dan ekonomi.
Biaya transportasi masyarakat akan meningkat karena ketergantungan pada Alat Angkut (Moda transportasi utama) lain yang relatif lebih mahal. Hal ini akan membebani pelajar, mahasiswa, dan pedagang kecil.
Di sisi lain, keterbatasan akses transportasi juga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi lokal serta memperlebar kesenjangan antarwilayah. Oleh karena itu, rekonstruksi rel kereta api bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan pemerataan pembangunan.
Bencana banjir dan lumpur yang terjadi pada 26 November 2025 telah memberikan dampak serius terhadap infrastruktur rel kereta api di Aceh, khususnya di Kabupaten Bireuen.

Kerusakan rel, stasiun, dan jembatan tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan yang sangat besar apabila operasional kereta api kembali diaktifkan tanpa perbaikan menyeluruh.
Oleh karena itu, perhatian dan tindakan cepat dari pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia sangat dibutuhkan untuk segera membangun kembali rel kereta api yang rusak. Pembangunan ini merupakan investasi jangka panjang bagi keselamatan, kesejahteraan, dan kemajuan masyarakat Aceh.
Rekonstruksi rel kereta api yang aman, kuat, dan berkelanjutan akan memastikan bahwa kereta api tetap menjadi sarana transportasi murah, aman, dan inklusif bagi siswa, mahasiswa, pedagang, dan masyarakat umum di Kabupaten Bireuen dan wilayah sekitarnya.
Penulis:
Yusri,S.Sos.,M.Si.,M.S
Dosen Fakultas ekonomi dan Bisniss UNIKI Bireuen.





Users Today : 11
Users Yesterday : 137
This Month : 437
This Year : 4664
Total Users : 9583
Views Today : 68
Total views : 44877
Who's Online : 1
Tinggalkan Jejak dengan berkomentar
Belum ada komentar. jadilah yang pertama!