Menghidupkan Sastra Lisan Aceh di Ruang Kelas: Mendongeng sebagai Strategi Pedagogis Berbasis Kearifan Lokal dan Praktik Storytelling Kreatif pada Mata Kuliah Mendongeng PBSA.

Menghidupkan Sastra Lisan Aceh di Ruang Kelas: Mendongeng sebagai Strategi Pedagogis Berbasis Kearifan Lokal dan Praktik Storytelling Kreatif pada Mata Kuliah Mendongeng PBSA.
Bireuen, dailyinews.com -

Pendidikan bahasa dan sastra daerah memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya dan nilai-nilai lokal di tengah arus globalisasi. Di Aceh, bahasa dan sastra Aceh bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga medium pewarisan nilai, sejarah, moral, dan kearifan lokal yang telah hidup dan berkembang secara turun-temurun.

Oleh karena itu, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh (PBSA) memiliki tanggung jawab akademik dan kultural dalam mencetak calon pendidik yang tidak hanya kompeten secara pedagogis, tetapi juga memiliki komitmen terhadap pelestarian budaya Aceh.

Salah satu mata kuliah yang memiliki kontribusi penting dalam mencapai tujuan tersebut adalah mata kuliah Mendongeng. Mendongeng sebagai bagian dari sastra lisan merupakan aktivitas berbahasa yang kompleks, karena melibatkan keterampilan linguistik, ekspresi verbal dan nonverbal, penguasaan emosi, serta kemampuan memahami konteks sosial dan budaya.

Dalam konteks pendidikan calon guru, mendongeng bukan sekadar keterampilan artistik, melainkan juga sarana pedagogis untuk menanamkan nilai, membangun karakter, dan mengembangkan kemampuan komunikasi peserta didik.

Dalam praktik pembelajaran di PBSA, Cut Santika, M.Pd., selaku Ketua Program Studi sekaligus dosen pengampu mata kuliah Mendongeng, menunjukkan komitmen kuat dalam menghadirkan pembelajaran yang hidup, inspiratif, dan bermakna.

Ia tidak membatasi pembelajaran pada aspek teoritis, tetapi mengembangkan pendekatan aplikatif yang mendorong mahasiswa untuk terlibat secara aktif, kreatif, dan reflektif. Artikel ini mengkaji secara akademik pendekatan pembelajaran tersebut serta relevansinya terhadap penguatan kompetensi mahasiswa dan pelestarian sastra lisan Aceh.

Mata kuliah Mendongeng ditempatkan sebagai ruang strategis untuk membangun fondasi kompetensi mahasiswa PBSA sebagai calon guru bahasa dan sastra Aceh. Dalam praktik perkuliahan,

Cut Santika mengembangkan pendekatan pembelajaran yang menitikberatkan pada keterlibatan aktif mahasiswa, penguasaan teknik storytelling, penghayatan peran, serta penguatan nilai-nilai budaya Aceh sebagai identitas akademik dan sosial.

Mendongeng sebagai Pilar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Aceh; dalam kajian pendidikan bahasa, mendongeng merupakan salah satu bentuk sastra lisan yang memiliki peran penting dalam pengembangan kemampuan berbahasa, khususnya keterampilan berbicara (speaking skills), menyimak (listening skills).

Selain penguasaan aspek paralinguistik seperti intonasi, ekspresi wajah, gestur, dan pengendalian emosi. Lebih dari itu, mendongeng juga menjadi sarana efektif dalam menyampaikan pesan moral, nilai sosial, dan kearifan lokal.

Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh, mata kuliah Mendongeng memiliki dimensi yang lebih luas. Mata kuliah ini tidak hanya bertujuan membekali mahasiswa dengan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran budaya dan tanggung jawab akademik untuk menjaga keberlanjutan sastra lisan Aceh yang kian tergerus oleh perkembangan zaman.

Cut Santika memandang bahwa calon guru bahasa dan sastra Aceh harus memiliki kepekaan budaya, kepercayaan diri, serta kemampuan komunikasi yang kuat. Oleh karena itu, pembelajaran mendongeng dirancang sebagai wahana pembentukan karakter pendidik yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga inspiratif dan berakar pada nilai-nilai lokal.

Pendekatan Pembelajaran yang Aplikatif dan Kontekstual; Dalam pelaksanaan perkuliahan, Cut Santika tidak membatasi mahasiswa pada kajian teoritis semata. Teori mendongeng, struktur cerita, jenis-jenis dongeng, serta teknik vokal dan ekspresi memang menjadi dasar pembelajaran. Namun, seluruh konsep tersebut segera diterjemahkan ke dalam praktik langsung di kelas.

Mahasiswa didorong untuk tampil secara total dalam setiap penampilan mendongeng. Mereka tidak hanya menyampaikan alur cerita, tetapi juga dituntut untuk menghidupkan karakter melalui suara, mimik wajah, dan gerak tubuh.

Bahkan, dalam satu penampilan, mahasiswa sering kali memainkan beberapa tokoh sekaligus, sehingga menuntut kemampuan konsentrasi, improvisasi, dan penguasaan emosi yang tinggi.

Pendekatan ini membuat pembelajaran menjadi dinamis dan menantang. Mahasiswa tidak berada dalam posisi pasif sebagai pendengar, melainkan sebagai subjek aktif yang terus berlatih, bereksperimen, dan merefleksikan kemampuan diri. Kelas pun berubah menjadi ruang belajar yang interaktif, ekspresif, dan kolaboratif.

Integrasi Storytelling dan Bermain Peran; Salah satu ciri khas pembelajaran mendongeng yang diterapkan oleh Cut Santika adalah integrasi antara storytelling dan bermain peran (role playing). Mahasiswa tidak hanya diminta menceritakan kisah, tetapi juga menghidupkan cerita tersebut seolah-olah sedang berlangsung di hadapan audiens.

Melalui pendekatan ini, mahasiswa belajar memahami karakter tokoh secara mendalam, baik dari sisi psikologis, sosial, maupun kultural. Mereka dituntut untuk menghayati peran, memahami konflik, serta menyampaikan pesan cerita dengan cara yang menyentuh emosi pendengar.

Latihan bermain peran ini terbukti efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa. Rasa gugup dan takut tampil di depan umum perlahan berkurang seiring dengan intensitas latihan dan dukungan dari dosen serta teman sejawat. Mahasiswa menjadi lebih berani mengekspresikan diri dan menyampaikan gagasan secara lisan dengan bahasa Aceh yang baik dan komunikatif.

Cerita Aceh sebagai Sumber Pembelajaran; Kisah-kisah yang dibawakan mahasiswa dalam perkuliahan bersumber dari berbagai cerita yang hidup di tengah masyarakat Aceh. Cerita rakyat, legenda daerah, hikayat, hingga potret kehidupan sosial masyarakat Aceh masa kini menjadi bahan utama dalam praktik mendongeng.

Pemilihan sumber cerita ini bukan tanpa alasan. Menurut Cut Santika, pembelajaran bahasa dan sastra Aceh harus berpijak pada realitas budaya lokal agar mahasiswa memiliki kedekatan emosional dengan materi yang dipelajari.

Selain dengan membawakan cerita Aceh, mahasiswa tidak hanya berlatih keterampilan berbahasa, tetapi juga menggali dan memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Cerita-cerita tersebut mengajarkan tentang kejujuran, keberanian, tanggung jawab, solidaritas, religiositas, serta hubungan manusia dengan lingkungan dan sesama. Nilai-nilai ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebagai calon pendidik yang kelak akan berhadapan langsung dengan peserta didik di sekolah dan masyarakat.

Menumbuhkan Kecintaan terhadap Sastra Lisan Aceh; Sastra lisan Aceh merupakan warisan budaya takbenda yang memiliki nilai historis dan edukatif yang tinggi. Namun, di era modern, keberadaan sastra lisan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari minimnya regenerasi pendongeng hingga berkurangnya ruang ekspresi di tengah masyarakat.

Melalui pembelajaran mendongeng di Prodi PBSA, Cut Santika berupaya menumbuhkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya pelestarian sastra lisan Aceh. Mahasiswa diajak untuk tidak hanya mempelajari sastra lisan sebagai objek akademik, tetapi juga menghidupkannya kembali melalui praktik mendongeng yang kreatif dan relevan dengan konteks kekinian.

Pendekatan ini menjadikan mahasiswa sebagai subjek pelestari budaya, bukan sekadar penikmat atau pengamat. Mereka diharapkan mampu membawa tradisi mendongeng ke ruang-ruang pendidikan formal maupun nonformal, serta menjadikannya sebagai media pembelajaran yang menarik dan bermakna.

Antusiasme mahasiswa menjadi salah satu indikator keberhasilan pembelajaran mendongeng di Prodi PBSA. Sejak awal perkuliahan, mahasiswa menunjukkan semangat yang tinggi untuk mengikuti setiap sesi pembelajaran. Mereka aktif berlatih, berdiskusi, dan saling memberikan masukan satu sama lain.

Latihan mendongeng tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga secara mandiri maupun berkelompok di luar jam perkuliahan. Mahasiswa terlihat tekun mempersiapkan penampilan, mulai dari pemilihan cerita, penghayatan karakter, hingga latihan vokal dan gestur.

Suasana kelas yang tercipta pun jauh dari kesan kaku. Perkuliahan berlangsung dalam atmosfer yang hangat, penuh ekspresi, dan sarat kreativitas. Interaksi antara dosen dan mahasiswa berjalan secara dialogis, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan.

Mendongeng sebagai Sarana Pembentukan Karakter Calon Guru;Menurut Cut Santika, mata kuliah Mendongeng bukan sekadar mata kuliah keterampilan, tetapi juga sarana pembentukan karakter mahasiswa sebagai calon guru bahasa dan sastra Aceh. Melalui mendongeng, mahasiswa belajar tentang tanggung jawab, disiplin, kerja keras, dan keberanian untuk tampil di ruang publik.

Selain itu, mendongeng juga melatih empati dan kepekaan sosial mahasiswa. Dengan menghayati berbagai tokoh dan konflik dalam cerita, mahasiswa belajar memahami perspektif orang lain dan menyampaikan pesan secara bijaksana. Kompetensi ini sangat penting bagi calon guru yang akan berperan sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan bagi peserta didik.

Implikasi Pedagogis dan Akademik; Pembelajaran mendongeng yang diterapkan di Prodi PBSA memiliki implikasi pedagogis yang signifikan. Mahasiswa tidak hanya memperoleh keterampilan praktis, tetapi juga pengalaman belajar yang holistik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Secara akademik, pendekatan ini sejalan dengan paradigma pembelajaran kontekstual dan berbasis kearifan lokal. Pembelajaran tidak terlepas dari realitas budaya mahasiswa, sehingga materi yang disampaikan menjadi lebih relevan dan bermakna.

Di sisi lain, pembelajaran ini juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pelestarian budaya dan pengembangan sumber daya manusia yang berkarakter. Prodi PBSA melalui mata kuliah Mendongeng menunjukkan kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan bahasa dan sastra Aceh.

Harapan dan Prospek ke Depan, melalui pembelajaran mendongeng yang aplikatif dan berbasis kearifan lokal ini, diharapkan mahasiswa PBSA mampu tampil sebagai pendidik yang profesional, inspiratif, dan berdaya saing. Mereka tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang efektif dan kepekaan budaya yang tinggi.

Ke depan, praktik pembelajaran ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut, baik melalui kegiatan pentas mendongeng, pengabdian kepada masyarakat, maupun kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan kebudayaan. Dengan demikian, mendongeng tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga kembali hadir dan bermakna di tengah masyarakat Aceh.

Penulis:
Yusri,S.Sos.,M.Si.,M.S
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisniss UNIKI Bireuen

Support Kami dengan share artikel ini !

Shares

Tinggalkan Jejak dengan berkomentar

Belum ada komentar. jadilah yang pertama!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *