Peunajoh Aceh sebagai Wujud Nyata Pelestarian Kuliner Tradisional Pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh(PBSA) FKIP UNIKI Bireuen.

Peunajoh Aceh sebagai Wujud Nyata Pelestarian Kuliner Tradisional Pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh(PBSA) FKIP UNIKI Bireuen.
Bireuen, dailyinews.com -

Budaya lokal merupakan identitas penting yang mencerminkan sejarah, nilai, dan cara hidup suatu masyarakat. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang semakin masif, eksistensi budaya lokal menghadapi berbagai tantangan, termasuk dalam aspek kuliner tradisional.

Kuliner tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi juga merepresentasikan sistem pengetahuan, nilai sosial, dan filosofi hidup masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, pelestarian kuliner tradisional menjadi bagian integral dari upaya menjaga keberlanjutan budaya daerah.

Aceh sebagai salah satu wilayah yang memiliki kekayaan budaya yang khas, dikenal dengan ragam kuliner tradisional yang sarat akan nilai historis dan filosofis. Namun demikian, perubahan gaya hidup, penetrasi makanan instan, serta minimnya regenerasi pelaku kuliner tradisional.

Selain ada  faktor yang berpotensi mengancam keberlangsungan warisan tersebut. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus agen pelestarian budaya.

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh (PBSA) FKIP UNIKI Bireuen merespons tantangan tersebut melalui pengembangan mata kuliah Peunajoh Aceh. Mata kuliah ini dirancang tidak hanya sebagai wahana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran.

Disamping itu kontekstual yang mengintegrasikan teori, praktik, dan nilai-nilai budaya Aceh. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep kuliner tradisional secara kognitif, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dan kesadaran budaya yang kuat.

Artikel ini mengkaji secara komprehensif pelaksanaan mata kuliah Peunajoh Aceh sebagai wujud nyata pelestarian kuliner tradisional di lingkungan akademik. Fokus pembahasan meliputi landasan konseptual pembelajaran berbasis budaya, implementasi project-based learning, jenis kuliner yang dipelajari dan dipraktikkan mahasiswa, serta luaran pembelajaran berbasis digital yang dihasilkan.

Pelestarian budaya merupakan upaya sistematis untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya. Dalam konteks pendidikan tinggi, pelestarian budaya dapat diintegrasikan melalui kurikulum, kegiatan akademik, serta pembelajaran berbasis kearifan lokal.

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berakar pada budaya lokal.

Integrasi budaya lokal dalam pembelajaran diyakini mampu meningkatkan relevansi pendidikan dengan konteks sosial masyarakat. Selain itu, pendekatan ini dapat memperkuat identitas mahasiswa sebagai bagian dari komunitas budaya tertentu, sekaligus menumbuhkan sikap apresiatif terhadap warisan leluhur.

Kuliner tradisional merupakan bagian dari warisan budaya takbenda yang memiliki nilai historis, sosial, dan simbolik. Setiap hidangan tradisional biasanya terkait dengan peristiwa adat, ritual keagamaan, serta praktik sosial masyarakat.

Di Aceh, berbagai penganan dan masakan khas tidak hanya disajikan sebagai konsumsi sehari-hari, tetapi juga memiliki makna khusus dalam acara pernikahan, kenduri, dan kegiatan adat lainnya.

Pelestarian kuliner tradisional memerlukan upaya lintas sektor, termasuk dokumentasi, edukasi, dan regenerasi pelaku. Pendidikan formal dapat menjadi sarana efektif untuk mentransmisikan pengetahuan kuliner tradisional secara terstruktur dan berkelanjutan.

Pembelajaran Berbasis Budaya, Project-based learning (PjBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif melalui pengerjaan proyek nyata yang relevan dengan konteks kehidupan.

Dalam pembelajaran berbasis budaya, PjBL memungkinkan mahasiswa untuk belajar melalui pengalaman langsung, eksplorasi, dan refleksi terhadap praktik budaya yang dipelajari.

Pendekatan ini dinilai efektif dalam mengembangkan keterampilan abad ke-21, seperti kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah. Selain itu, PjBL juga mendorong mahasiswa untuk menghasilkan luaran konkret yang memiliki nilai akademik dan sosial.

ImplementasiMata kuliah Peunajoh Aceh diajarkan pada semester ganjil di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh FKIP UNIKI Bireuen. Mata kuliah ini diampu oleh Cut Santika, M.Pd., yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi di lingkungan FKIP UNIKI Bireuen.

Dalam pelaksanaannya, mata kuliah ini dirancang dengan menekankan keseimbangan antara pemahaman teoretis dan keterampilan praktis.

Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep dasar kuliner tradisional Aceh, sejarah, serta nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, tetapi juga diwajibkan untuk mempraktikkan secara langsung proses pengolahan berbagai jenis makanan khas Aceh. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun pengalaman belajar yang autentik dan bermakna.

Ragam Kuliner Tradisional dalam Pembelajaran, dalam mata kuliah Peunajoh Aceh, mahasiswa mengolah berbagai jenis hidangan tradisional dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang menjadi identitas kuliner Aceh. Bahan-bahan tersebut meliputi buah-buahan, sayur-mayur, ikan, daging, serta bahan dasar tepung.

Untuk kategori penganan berbahan dasar tepung, mahasiswa mempraktikkan pembuatan doidoi, meuseukat, dan halua. Penganan ini merupakan kue tradisional Aceh yang lazim disajikan dalam berbagai acara pernikahan dan kegiatan adat. Proses pembuatannya mengajarkan ketelitian, kesabaran, serta pemahaman terhadap teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Sementara itu, untuk bahan dasar daging, mahasiswa mengolah masakan khas Aceh seperti kuah sie kamèng, sie itèk, dan kuah beulangong. Masakan-masakan tersebut tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang khas dan kaya rempah.

Selain juga merepresentasikan filosofi gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat Aceh. Kuah beulangong, misalnya, umumnya dimasak secara bersama-sama dalam jumlah besar pada kegiatan adat, sehingga mencerminkan nilai solidaritas sosial.

Peran Dosen dalam Menumbuhkan Kesadaran Budaya, Cut Santika, M.Pd. menegaskan bahwa pembelajaran Peunajoh Aceh dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan nyata sekaligus menumbuhkan kesadaran budaya.

Melalui pendekatan project-based learning, mahasiswa diajak untuk memahami seluruh proses pengolahan makanan, mulai dari pemilihan bahan, teknik memasak, hingga penyajian dan makna filosofis yang menyertainya.

Peran dosen tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator dan mentor yang membimbing mahasiswa dalam mengaitkan praktik kuliner dengan konteks budaya dan nilai-nilai lokal. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih holistik dan berorientasi pada pembentukan karakter.

Sebagai luaran pembelajaran berbasis Digital, hasil proyek mata kuliah Peunajoh Aceh dipublikasikan melalui kanal YouTube Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh. Publikasi ini merupakan bentuk inovasi akademik yang relevan dengan perkembangan teknologi dan media digital.

Melalui platform digital, hasil karya mahasiswa tidak hanya terdokumentasi dengan baik, tetapi juga dapat diakses oleh masyarakat luas. Hal ini menjadikan perkuliahan Peunajoh Aceh sebagai sarana promosi dan edukasi budaya yang efektif, sekaligus memperluas jangkauan pelestarian kuliner tradisional Aceh lintas generasi dan wilayah.

Mata kuliah Peunajoh Aceh di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh FKIP UNIKI Bireuen merupakan wujud nyata komitmen akademik dalam pelestarian kuliner tradisional Aceh. Melalui pembelajaran berbasis praktik, budaya, dan project-based learning, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoretis, tetapi juga keterampilan praktis dan kesadaran budaya yang kuat.

Publikasi luaran pembelajaran melalui media digital semakin memperkuat kontribusi akademik Prodi PBSA dalam mendokumentasikan dan mempromosikan kuliner tradisional Aceh kepada masyarakat luas.

Dengan demikian, mata kuliah Peunajoh Aceh berperan strategis dalam membentuk mahasiswa sebagai agen pelestari budaya, pendidik, dan generasi muda yang peduli terhadap keberlanjutan warisan kuliner Aceh.

Ke depan, diharapkan pengembangan mata kuliah berbasis budaya seperti Peunajoh Aceh dapat terus ditingkatkan, baik dari sisi kurikulum, kolaborasi lintas disiplin, maupun pemanfaatan teknologi, sehingga pelestarian budaya lokal dapat berjalan seiring dengan kemajuan pendidikan tinggi.

Penulis:
Yusri,S.Sos.,M.Si.,M.S
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisniss UNIKI Bireuen.

Support Kami dengan share artikel ini !

Shares

Tinggalkan Jejak dengan berkomentar

Belum ada komentar. jadilah yang pertama!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *