Dari Ruang Kuliah ke Panggung Internasional: Mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI Bireuen-Aceh Tampilkan Tari Meusare-Sare di INTI Malaysia

Dari Ruang Kuliah ke Panggung Internasional: Mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI Bireuen-Aceh Tampilkan Tari Meusare-Sare di INTI Malaysia
Bireuen, dailyinews.com -

Komitmen Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen-Aceh dalam mengembangkan kompetensi mahasiswa sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Aceh di tingkat internasional kembali diwujudkan melalui partisipasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNIKI dalam kegiatan di INTI International University, Malaysia.

Dalam kegiatan ini, para mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan menampilkan Tari Meusare-Sare,sebagai salah satu karya seni yang menjadi bagian dari pembelajaran dan praktik mata kuliah Tari Tradisional Aceh. Penampilan ini menjadi pengalaman akademik sekaligus budaya yang mempertemukan proses pembelajaran di perguruan tinggi dengan ruang apresiasi seni di tingkat internasional.

Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 15 Juli 2026 dan didampingi oleh Novita Hidayani, S.Sn., M.Sn., selaku Kepala Laboratorium Seni Pertunjukan sekaligus dosen tetap Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI. Kehadiran dosen pendamping menjadi bagian penting dalam memastikan mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran yang terarah, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan pertunjukan.

Lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI turut mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari semester yang berbeda dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi seni, komunikasi, kerja sama, serta pengalaman akademik melalui kegiatan di lingkungan internasional.

Kelima mahasiswa ini yang akan tampil pada acara antara lain,Syaikhan Khalis, mahasiswa semester 2, Ira Nika, mahasiswa semester 4, Sitti Baizura, mahasiswa semester 4, Fasha Shadira, mahasiswa semester 2, dan Muhammad Fazil, mahasiswa semester 4.

Keterlibatan mahasiswa dari semester 2 dan semester 4 menunjukkan bahwa proses pembelajaran seni pertunjukan dapat memberikan ruang pengalaman kepada mahasiswa sejak tahap awal hingga tahap perkembangan kompetensi yang lebih lanjut.

Pengalaman Akademik di Lingkungan Internasional pada Kegiatan di INTI International University Malaysia memberikan pengalaman berbeda bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya tampil sebagai pelaku seni, tetapi juga membawa identitas Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI dan budaya Aceh.

Lingkungan internasional memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar beradaptasi dengan situasi baru, membangun komunikasi, meningkatkan kepercayaan diri, dan memahami bahwa keterampilan seni dapat menjadi bagian dari komunikasi lintas budaya.

Selain pengalaman ini yang memiliki nilai akademik karena mahasiswa dapat menghubungkan teori dan praktik yang diperoleh selama perkuliahan dengan pengalaman nyata di luar lingkungan kampus.

Tari Meusare-Sare merupakan Capaian Project Mata Kuliah Tari Tradisional Aceh Menurut ibuk Novita Hidayani, S.Sn., M.Sn., sebagai Dosen Pendidikan Seni Pertunjukan, bahwa Tari Meusare-Sare yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut merupakan capaian project pada mata kuliah Tari Tradisional Aceh.

Mata kuliah ini yang diampu oleh Umul Aiman, M.Pd., selaku Kepala Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI. Dengan demikian, penampilan Tari Meusare-Sare di Malaysia tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari proses pembelajaran akademik yang telah dilaksanakan mahasiswa.

Selain proses pembelajaran menjadi Karya Pertunjukan dalam pendidikan seni pertunjukan, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami konsep secara teoritis. Mereka juga harus mampu mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam bentuk karya seni yang dapat dipertunjukkan.

Project Tari Meusare-Sare menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran karena Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalam memahami gerak, ekspresi, kekompakan, disiplin latihan, interpretasi seni, serta kerja sama kelompok.

Proses ini memperlihatkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat menghasilkan pengalaman yang lebih konkret. Mahasiswa tidak berhenti pada pemahaman materi, tetapi diarahkan untuk menghasilkan karya yang dapat diapresiasi oleh masyarakat.

Tari Meusare-Sare membawa Identitas Budaya Aceh ke Malaysia, bahwa penampilan Tari Meusare-Sare di INTI International University memiliki makna penting dari sisi pelestarian budaya. Seni tradisional Aceh dapat menjadi media untuk memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat internasional.

Aceh memiliki kekayaan seni dan budaya yang berkembang dari nilai-nilai sejarah dan kehidupan masyarakat. Ketika seni itu dibawa ke forum internasional, maka mahasiswa memiliki kesempatan untuk memperkenalkan salah satu bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Seni sebagai Jembatan Komunikasi Lintas Bangsa Novita Hidayani menyampaikan bahwa penampilan Tari Meusare-Sare di INTI International University menjadi bukti bahwa kekayaan budaya lokal dapat menjadi jembatan untuk membangun komunikasi lintas bangsa.

Selain keberagaman budaya dunia, bahwa Aceh hadir dengan identitasnya melalui seni yang hidup, tradisi yang kuat, serta generasi muda yang bangga menjadi bagian dari warisan budaya.

Disamping pernyataan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan pendekatan yang terbatas pada ruang lokal. Budaya dapat diperkenalkan melalui berbagai ruang, termasuk perguruan tinggi, forum internasional, pertukaran mahasiswa, pertunjukan seni, dan kegiatan akademik.

Peran Dosen dalam mendampingi Mahasiswa, bahwa kehadiran Novita Hidayani, S.Sn., M.Sn. sebagai dosen pendamping memiliki peran strategis dalam kegiatannya dan juga sebagai Kepala Laboratorium Seni Pertunjukan dan dosen tetap Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, beliau mendampingi mahasiswa dalam menjalankan kegiatan akademik dan seni di INTI International University Malaysia.

Pendampingan dosen diperlukan agar kegiatan mahasiswa tetap memiliki arah akademik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain memberikan arahan teknis, dosen juga berperan dalam membangun kesiapan mahasiswa menghadapi lingkungan baru.

Membangun Profesionalisme Mahasiswa harus memiliki pengalaman tampil di lingkungan internasional itu menjadi salah satu sarana untuk membentuk profesionalisme mahasiswa. Mereka belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, etika, kerja sama, dan kemampuan menampilkan karya dengan baik.

Nilai-nilai tersebut sangat penting bagi mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan karena mereka dipersiapkan menjadi calon pendidik sekaligus pelaku seni yang mampu mengembangkan pembelajaran seni secara kreatif.

Implementasi Tridharma Perguruan Tinggi perlu keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam kegiatan internasional dan juga dapat dikaitkan dengan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, terutama dalam aspek pendidikan, pengembangan pengetahuan dan budaya, serta kontribusi kepada masyarakat melalui penyebarluasan nilai-nilai seni.

Selain dari sisi pendidikan, bahwa mahasiswa menerapkan hasil pembelajaran mata kuliah Tari Tradisional Aceh melalui pertunjukan nyata. Pembelajaran menjadi lebih kontekstual karena mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di lingkungan internasional.

Penelitian dan Pengembangan Seni sebagai kegiatan pertunjukan yang juga dapat menjadi sumber pengembangan pengetahuan mengenai seni tradisional Aceh. Disamping dokumentasi, kajian gerak, sejarah, fungsi sosial, dan perkembangan Tari Meusare-Sare dapat dikembangkan menjadi bahan penelitian akademik.

Pengabdian dan Pelestarian Budaya merupakan pengabdian kepada masyarakat, pengenalan budaya Aceh kepada masyarakat internasional dapat menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya. Dengan demikian, seni pertunjukan dapat menjadi media yang menghubungkan pendidikan tinggi dengan masyarakat sekaligus memperkuat identitas budaya.

Generasi Muda sebagai pelanjut Warisan Budaya Aceh karena keterlibatan lima mahasiswa dalam kegiatan internasional tersebut memiliki makna yang lebih luas. Mereka merupakan bagian dari generasi muda yang memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan keberadaan seni dan budaya Aceh.

Mahasiswa bukan hanya penerima warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi pelaku yang mengembangkan dan memperkenalkan warisan tersebut kepada generasi berikutnya.

Membawa Budaya Lokal kemasa depan untuk pelestarian budaya yang tidak berarti mempertahankan semua bentuk tradisi tanpa perubahan. Pelestarian juga berarti memastikan nilai-nilai budaya tetap hidup dan dapat dipahami oleh generasi baru.

Selain penampilan Tari Meusare-Sare di Malaysia menjadi contoh bahwa budaya lokal dapat dibawa ke ruang global dengan tetap mempertahankan identitasnya. Budaya Aceh dapat terus berkembang melalui pendidikan, kreativitas mahasiswa, teknologi, dokumentasi digital, penelitian, serta kolaborasi dengan berbagai institusi di dalam dan luar negeri.

Memperkuat Internasionalisasi Pendidikan Seni Pertunjukan pada kegiatan di INTI International University Malaysia menjadi peluang bagi Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI untuk memperluas pengalaman internasional mahasiswa.

Keikutsertaan dalam kegiatan semacam ini dapat menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing lulusan. Mahasiswa yang memiliki pengalaman internasional diharapkan lebih siap berkomunikasi, beradaptasi, dan bekerja dalam lingkungan yang memiliki keberagaman budaya.

Selain kegiatan itu, juga membuka peluang pengembangan jejaring akademik dan kebudayaan antara perguruan tinggi Indonesia dan institusi pendidikan tinggi di Malaysia.

Kesimpulan, bahwa penampilan Tari Meusare-Sare di INTI International University Malaysia pada 15 Juli 2026 menjadi momentum penting bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI dalam mengembangkan kompetensi akademik sekaligus memperkenalkan budaya Aceh di tingkat internasional.

Dalam kegiatan ini didampingi oleh Novita Hidayani, S.Sn., M.Sn., selaku Kepala Laboratorium Seni Pertunjukan dan dosen tetap Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI. Lima mahasiswa yang terlibat, yaitu Syaikhan Khalis, Ira Nika, Sitti Baizura, Fasha Shadira, dan Muhammad Fazil, mendapatkan pengalaman berharga melalui kegiatan seni dan akademik di lingkungan internasional.

Tari Meusare-Sare yang ditampilkan merupakan capaian project mata kuliah Tari Tradisional Aceh yang diampu oleh Umul Aiman, M.Pd., selaku Kepala Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI. Hal ini menunjukkan bahwa hasil pembelajaran di ruang kuliah dapat dikembangkan menjadi karya yang memiliki nilai edukatif, artistik, dan budaya.

Selanjutnya, penampilan itu menjadi bukti bahwa kekayaan budaya lokal dapat menjadi jembatan komunikasi lintas bangsa. Aceh hadir melalui seni yang hidup, tradisi yang kuat, dan generasi muda yang memiliki kebanggaan terhadap warisan budayanya.

Disamping memperkuat komitmen Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI Bireuen-Aceh dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi sekaligus memberikan ruang kepada mahasiswa untuk berkiprah lebih luas. Melestarikan budaya bukan hanya tentang menjaga warisan masa lalu, tetapi juga membawa warisan tersebut menuju masa depan dan memperkenalkannya kepada dunia.

Support Kami dengan share artikel ini !

Shares

Tinggalkan Jejak dengan berkomentar

Belum ada komentar. jadilah yang pertama!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *