Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh UNIKI Gelar GEBASACEH 2026, Wujudkan Ekspresi Bahasa, Sastra, dan Budaya Aceh

Pelestarian bahasa, sastra, dan budaya daerah merupakan salah satu tanggung jawab penting lembaga pendidikan tinggi, khususnya program studi yang memiliki konsentrasi pada pendidikan bahasa dan kebudayaan lokal.

Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, serta perubahan pola kehidupan masyarakat modern, eksistensi bahasa daerah menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Oleh karena itu, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menjadi agen pelestarian budaya daerah. Pelatihan Keamanan Digital Tiga Dosen FAPERTA FH UNIMAL Terima

Sebagai bentuk implementasi komitmen tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh (PBSA), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) menyelenggarakan Gelar Ekspresi Bahasa dan Sastra Aceh (GEBASACEH) 2026 pada Kamis, 9 Juli 2026, bertempat di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperlihatkan hasil pembelajaran mahasiswa selama satu semester melalui berbagai pertunjukan seni, sastra, bahasa, dan budaya Aceh. Lebih dari sekadar kegiatan akademik, GEBASACEH 2026 merupakan wadah ekspresi, kreativitas, inovasi, sekaligus media pelestarian warisan budaya Aceh yang dikemas secara edukatif dan menarik.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengaktualisasikan kemampuan yang telah dipelajari di ruang kuliah dalam bentuk pertunjukan nyata yang dapat diapresiasi oleh masyarakat luas.

Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga menekankan keterampilan praktik, kreativitas, dan penguatan karakter budaya.

Disamping itu, penyelenggaraan GEBASACEH 2026 merupakan implementasi nyata dari pendekatan Project Based Learning (PjBL) yang saat ini menjadi salah satu model pembelajaran unggulan di perguruan tinggi. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga dituntut menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Setiap penampilan yang disajikan merupakan hasil proses belajar yang berlangsung selama lebih dari empat bulan di bawah bimbingan dosen pengampu mata kuliah praktik. Seluruh mahasiswa terlibat aktif sejak tahap perencanaan, penyusunan konsep, latihan, evaluasi, hingga pelaksanaan kegiatan.

Pendekatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning), karena mahasiswa memperoleh kesempatan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, sikap profesional, kemampuan komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, serta kreativitas dalam satu kegiatan akademik yang komprehensif.

GEBASACEH 2026 sekaligus membuktikan bahwa pembelajaran berbasis proyek mampu menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi tantangan dunia pendidikan maupun masyarakat.

Keberhasilan pelaksanaan GEBASACEH 2026 tidak terlepas dari dukungan penuh Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia.Pada acara juga dihadiri oleh Dr. Mai Simahatie, S.E., M.M. (Wakil Rektor I), Dr. Kamaruddin, M.M., CRP., CFRM. (Wakil Rektor III), Dr. M. Taufiq, M.Pd. (Dekan FKIP), Rahmi, M.Pd. (Wakil Dekan FKIP UNIKI Bireun), Selain itu hadir, M. Tasrief, S.E., M.M. (Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen)

Selain itu juga turut hadir pula para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, tamu undangan, serta masyarakat yang memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.

Kehadiran berbagai unsur pimpinan menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung pengembangan pendidikan berbasis budaya lokal sebagai bagian dari implementasi Tridarma Perguruan Tinggi.

Pada acara secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor III UNIKI, Dr. Kamaruddin, M.M., CRP., CFRM,dalam sambutannya beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh atas dedikasi dan kerja keras dalam mempersiapkan kegiatan tersebut.

Menurut beliau, bahasa dan budaya merupakan identitas suatu bangsa. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga eksistensinya melalui proses pendidikan yang inovatif.

Beliau juga menegaskan bahwa kegiatan seperti GEBASACEH menjadi bukti bahwa mahasiswa UNIKI tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga mampu mengembangkan kreativitas, kepemimpinan, kerja sama, serta kecintaan terhadap budaya daerah.

Lebih lanjut disampaikan bahwa keberhasilan mahasiswa menyelenggarakan kegiatan secara mandiri merupakan indikator berkembangnya soft skills yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

Peran Dosen dalam membangun kompetensi Mahasiswa, agar keberhasilan GEBASACEH 2026 juga merupakan hasil kolaborasi yang erat antara mahasiswa dan dosen pengampu mata kuliah praktik.

Disamping itu, ada Empat dosen berperan aktif dalam membimbing mahasiswa, yaitu Cut Santika, M.Pd., beliau sebagai kapradi dan juga sebagai dosen pengampu mata kuliah Mendongeng, bahwa membimbing mahasiswa dalam teknik bertutur, ekspresi, intonasi, komunikasi edukatif, serta penyampaian pesan moral melalui cerita rakyat Aceh.

Selain itu, bapak Marzuki Umar, M.Pd., beliau sebagai dosen mata kuliah Seumapa, dan mengajarkan teknik berpantun, penguasaan bahasa Aceh, estetika sastra lisan, serta kemampuan improvisasi dalam menyampaikan pantun secara komunikatif.

 

Selanjutnya, ibuk Umul Aiman, M.Pd., beliau pengampu mata kuliah Sandiwara, mahasiswa memperoleh pengalaman mengenai seni peran, penyusunan naskah, penyutradaraan, hingga teknik pementasan yang mengangkat nilai-nilai sosial dan budaya Aceh.

 

Selain Ibuk Sarah Nadia, M.Pd., beliau pengampu mata kuliah Busana Aceh, mahasiswa mempelajari sejarah, filosofi, estetika, dan nilai budaya yang terkandung dalam pakaian adat Aceh sehingga mampu menampilkan peragaan busana yang edukatif dan bernilai budaya.

Namun dengan kolaborasi antara dosen dan mahasiswa tersebut menjadi contoh implementasi pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif dalam proses pendidikan.

Keragaman penampilan Mahasiswa sebagai Implementasi Kompetensi Mata Kuliah Praktik, bahwa puncak kegiatan GEBASACEH 2026 ditandai dengan berbagai pertunjukan yang dipersembahkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh.

Seluruh penampilan merupakan hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan secara terstruktur selama satu semester, sehingga menjadi bentuk implementasi nyata capaian pembelajaran mata kuliah praktik.

Keempat jenis pertunjukan yang ditampilkan, yaitu mendongeng, seumapa (balas pantun Aceh), sandiwara, dan peragaan busana Aceh, mencerminkan kekayaan bahasa, sastra, seni, dan budaya Aceh yang dikemas secara edukatif, komunikatif, dan menarik.

Selain mendongeng sebagai Media Pendidikan Karakter, bahwa penampilan mendongeng menjadi salah satu atraksi yang menarik perhatian nitizen,bahwa  Mahasiswa membawakan cerita rakyat Aceh dengan teknik bert atau Bidirectional Encoder Representation (Mengalisis Kalimat secara dua arah).

Support Kami dengan share artikel ini !

Shares

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*