Cut Santika, M.Pd. Kaprodi PBSA FKIP UNIKI Bireuen-Aceh Jadi Presenter Internasional di Malaysia, Gaungkan Revitalisasi Bahasa Daerah di Era Digital

Internasionalisasi pendidikan tinggi menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatkan kualitas perguruan tinggi di era global. Kehadiran dosen dalam forum ilmiah internasional tidak hanya menjadi media diseminasi hasil penelitian, tetapi juga memperkuat jejaring akademik.

Selain untuk meningkatkan reputasi institusi, serta memperkenalkan potensi budaya bangsa kepada masyarakat dunia. Dalam konteks tersebut, Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) kembali mencatatkan prestasi akademik melalui partisipasi aktif salah satu dosennya dalam forum ilmiah internasional. Profil Universitas Islam Bintang Muda Indonesia Seminar Pemanfaatan Artificial Rupiah dan Kebijakan

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh (PBSA) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNIKI, Cut Santika, M.Pd., tampil sebagai presenter internasional pada seminar akademik yang diselenggarakan di INTI International University, Malaysia, pada 15 Juli 2026.

Kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara untuk berbagi gagasan, hasil penelitian, serta inovasi dalam bidang pendidikan, bahasa, budaya, dan teknologi.

Pada kesempatan tersebut, Cut Santika mempresentasikan makalah ilmiah berjudul “Revitalisasi Bahasa Daerah di Era Digital: Peran Perguruan Tinggi dalam Melestarikan Warisan Budaya dan Membangun Generasi Masa Depan.”

Disamping itu,Topik ini menjadi sangat relevan karena menyoroti tantangan yang dihadapi bahasa daerah di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, globalisasi, serta perubahan pola komunikasi generasi muda.

Selain keikutsertaan ini sekaligus menunjukkan komitmen FKIP UNIKI dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi serta memperkuat kontribusi akademik Indonesia, khususnya Aceh, dalam upaya pelestarian bahasa dan budaya di tingkat global.

Komitmen UNIKI Menuju Perguruan Tinggi Berdaya Saing Global, bahwa Universitas Islam Kebangsaan Indonesia terus berupaya meningkatkan kualitas akademik melalui penguatan Tridarma Perguruan Tinggi.

Selain itu, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu strategi yang ditempuh adalah mendorong dosen untuk berpartisipasi dalam seminar, konferensi, dan forum ilmiah internasional.

Partisipasi dosen dalam forum internasional memiliki nilai strategis karena mampu memperluas jaringan kerja sama akademik, membuka peluang penelitian kolaboratif, meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi, serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.

Tetapi keikutsertaan Cut Santika, M.Pd. sebagai presenter internasional menjadi representasi nyata komitmen UNIKI Bireuen-Aceh dalam membangun budaya akademik yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada kualitas global.

Revitalisasi Bahasa Daerah sebagai Tantangan di Era Digital, bahwa dalam presentasinya, Cut Santika mengemukakan bahwa perkembangan teknologi digital membawa dua sisi yang saling bertolak belakang terhadap keberlangsungan bahasa daerah.

Selain itu, globalisasi untuk mempercepat dominasi bahasa nasional maupun bahasa internasional dalam berbagai aspek kehidupan. Generasi muda semakin terbiasa menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa asing.

Akan tetapi dalam berkomunikasi sehari-hari, terutama melalui media sosial, platform digital, dan aplikasi komunikasi. Namun kondisi tersebut berpotensi mengurangi intensitas penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga membuka peluang baru untuk melestarikan bahasa daerah melalui berbagai inovasi digital. Bahasa daerah kini dapat didokumentasikan, diajarkan, dipromosikan, dan dikembangkan melalui media yang lebih menarik, mudah diakses, dan sesuai dengan karakteristik generasi digital.

Menurut Cut Santika, revitalisasi bahasa daerah tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran konvensional di ruang kelas, tetapi harus mampu memasuki ruang digital yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.

Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Pelestarian Bahasa Daerah,dalam forum internasional, Cut Santika menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah.

Selain sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam melestarikan identitas budaya bangsa.

Peran tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan, antara lain, pengembangan Kurikulum Berbasis Kearifan Lokal. Selain itu, bahwa program studi perlu mengintegrasikan bahasa daerah sebagai bagian dari kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Penelitian dan Dokumentasi Bahasa Daerah di Perguruan tinggi sangat berperan dalam mendokumentasikan kosakata, sastra lisan, cerita rakyat, tradisi tutur, serta berbagai bentuk ekspresi budaya yang menggunakan bahasa daerah sebagai media utama.

Selain Pengabdian kepada Masyarakat melalui kegiatan pengabdian, dosen dan mahasiswa dapat memberikan pelatihan, pendampingan, serta edukasi kepada masyarakat dalam upaya menjaga penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas.

Transformasi Digital sebagai Peluang Pelestarian Bahasa Aceh yang merupakan salah satu poin penting dalam presentasi tersebut adalah pemanfaatan teknologi digital sebagai media revitalisasi bahasa daerah.

Pada kesempatan itu, Cut Santika menjelaskan bahwa generasi muda saat ini hidup dalam ekosistem digital. Oleh karena itu, strategi pelestarian bahasa harus menyesuaikan perkembangan teknologi agar tetap relevan.

Beberapa bentuk inovasi yang dapat dikembangkan antara lain,aplikasi pembelajaran bahasa Aceh,kamus digital berbasis gawai, podcast berbahasa Aceh,video edukasi dan animasi budaya,konten kreatif di media social,buku elektronik (e-book),permainan edukatif berbasis bahasa daerah.

Selain itu, digitalisasi manuskrip dan sastra klasik Aceh,kanal YouTube edukasi bahasa dan budaya,platform pembelajaran daring yang mengintegrasikan bahasa daerah. Menurutnya, teknologi bukan ancaman bagi bahasa daerah apabila dimanfaatkan secara kreatif dan produktif.

Bahasa Daerah sebagai Identitas Budaya Bangsa dalam paparannya, Cut Santika juga menegaskan bahwa bahasa daerah merupakan identitas budaya yang memiliki nilai historis, filosofis, dan sosial yang sangat tinggi.Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan media pewarisan nilai-nilai budaya, adat istiadat, sejarah, serta kearifan lokal dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Akan tetapi Bahasa Aceh, selain menyimpan berbagai ungkapan adat, hikayat, pantun, syair, serta sastra lisan yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Aceh. Apabila penggunaan bahasa tersebut terus menurun, maka berbagai nilai budaya yang terkandung di dalamnya juga berpotensi ikut memudar. Oleh karena itu, revitalisasi bahasa daerah harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa.

Pada acara tersebut,Antusiasme Peserta Internasional, bahwa Presentasi yang disampaikan oleh Cut Santika memperoleh perhatian positif dari peserta seminar internasional. Pengalaman Indonesia, khususnya Aceh, dalam mengembangkan strategi pelestarian bahasa daerah melalui pendidikan tinggi menjadi salah satu topik yang memicu diskusi akademik yang konstruktif.

Para peserta menunjukkan ketertarikan terhadap pendekatan yang menggabungkan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pemanfaatan teknologi digital dalam menjaga eksistensi bahasa daerah. Diskusi juga membuka peluang pertukaran gagasan mengenai praktik terbaik pelestarian bahasa lokal di berbagai negara.

Dampak bagi FKIP UNIKI dan Pengembangan Akademik Partisipasi Cut Santika sebagai presenter internasional memberikan manfaat yang luas bagi FKIP UNIKI, antara lain, meningkatkan reputasi akademik Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh,memperluas jejaring kerja sama internasional,membuka peluang penelitian kolaboratif dan publikasi ilmiah,memperkuat implementasi Tridarma Perguruan Tinggi.

Disamping mendukung pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap era digital,meningkatkan kompetensi dosen dan mahasiswa dalam forum akademik global, dan memperkenalkan bahasa serta budaya Aceh kepada masyarakat internasional. Prestasi ini juga menjadi inspirasi bagi sivitas akademika UNIKI untuk terus menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan berdaya saing internasional.

Kesimpulan, keikutsertaan Cut Santika, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh FKIP Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen-Aceh, sebagai presenter internasional di INTI International University Malaysia pada 15 Juli 2026 merupakan capaian akademik yang membanggakan sekaligus memperkuat posisi UNIKI dalam jejaring pendidikan tinggi internasional.

Melalui makalah berjudul “Revitalisasi Bahasa Daerah di Era Digital: Peran Perguruan Tinggi dalam Melestarikan Warisan Budaya dan Membangun Generasi Masa Depan,” Cut Santika menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah memerlukan kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dan pemanfaatan teknologi digital.

Dengan mengintegrasikan inovasi digital ke dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, bahasa daerah dapat terus hidup, berkembang, dan menjadi identitas budaya yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Partisipasi ini tidak hanya mengharumkan nama FKIP UNIKI dan Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Bireuen-Aceh, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keberagaman bahasa dan budaya Indonesia di tengah dinamika globalisasi serta transformasi digital.

Support Kami dengan share artikel ini !

Shares

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*