Dosen FKIP UNIKI Bireuen Jadi Juri Senam Anak Ceria Tingkat TK di Kecamatan Makmur Kabupaten Bireuen

Dosen FKIP UNIKI Bireuen Jadi Juri Senam Anak Ceria Tingkat TK di Kecamatan Makmur Kabupaten Bireuen
Bireuen, dailyinews.com -

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen turut berkontribusi dalam kegiatan pendidikan dan pengembangan aktivitas fisik anak usia dini melalui keterlibatan sebagai juri Senam Anak Ceria tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) di Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen.

Kegiatan itu melibatkan 14 sekolah TK di Kecamatan Makmur. Kehadiran dosen FKIP UNIKI sebagai juri menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung kegiatan pendidikan anak usia dini, khususnya melalui aktivitas senam yang menggabungkan unsur gerak, kesehatan, kreativitas, kedisiplinan, dan kegembiraan.

Dua dosen FKIP UNIKI yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Ibuk Masyitah, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani (Penjas) dan Umul Aiman, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan. Keduanya memiliki kompetensi yang relevan dengan aspek penilaian kegiatan senam, baik dari perspektif pendidikan jasmani maupun seni pertunjukan.

Senam bagi anak usia dini bukan sekadar aktivitas untuk mengikuti gerakan secara bersama-sama. Kegiatan itu dapat menjadi media pembelajaran yang menyenangkan untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak.

Selain gerakan senam juga anak dapat belajar mengoordinasikan anggota tubuh, mengikuti irama, menjaga keseimbangan, meningkatkan kelenturan, serta membangun keberanian untuk tampil di depan orang lain.

Pada usia TK, perkembangan motorik merupakan salah satu bagian penting dalam proses pertumbuhan anak. Aktivitas fisik yang dilakukan secara terarah dapat membantu anak mengenal kemampuan tubuhnya sekaligus meningkatkan koordinasi gerak.

Selain aspek fisik, kegiatan senam bersama juga memberikan pengalaman sosial. Anak belajar mengikuti instruksi, bekerja sama dengan teman, menjaga kekompakan kelompok, serta menunjukkan keberanian ketika tampil di hadapan juri dan penonton.

Kegiatan Senam Anak Ceria tingkat TK di Kecamatan Makmur diikuti oleh 14 sekolah TK. Untuk memeriahkan kegiatan itu yang menunjukkan antusiasme lembaga pendidikan anak usia dini dalam menghadirkan aktivitas pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

Selain masing-masing peserta menampilkan gerakan senam dengan karakter dan kreativitas kelompok. Anak-anak mengikuti rangkaian gerakan dengan penuh semangat, sementara guru dan pendamping memberikan dukungan selama kegiatan berlangsung.

Senam Menggabungkan Gerak, Musik, dan Kreativitas dalam kegiatan senam anak, unsur gerakan tidak dapat dipisahkan dari musik dan ekspresi. Anak-anak tidak hanya dituntut mampu mengikuti rangkaian gerak, tetapi juga perlu menunjukkan keberanian, keceriaan, kekompakan, serta kemampuan menyesuaikan gerakan dengan irama.

Oleh karena itu, kehadiran Masyitah, M.Pd. dan Umul Aiman, M.Pd. sebagai juri memiliki relevansi akademik yang kuat. Pendidikan jasmani memberikan perspektif mengenai aspek gerak dan aktivitas fisik, sedangkan pendidikan seni memberikan perhatian terhadap ekspresi, kreativitas, irama, dan penampilan.

Namun Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani FKIP UNIKI, bahwa Masyitah, M.Pd. memiliki perhatian dalam pengembangan aktivitas fisik yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Disamping konteks anak usia dini, bahwa aktivitas fisik perlu dirancang secara menyenangkan, aman, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Senam dapat menjadi salah satu bentuk aktivitas yang membantu membangun kebiasaan hidup aktif sejak usia dini.

Pentingnya pembiasaan aktivitas fisik sejak usia dini yang memiliki nilai edukatif. Anak diperkenalkan pada pentingnya bergerak, menjaga kebugaran, serta menikmati aktivitas olahraga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan Senam Anak Ceria ini, bahwa pendidikan jasmani tidak hanya dipahami sebagai pembelajaran formal di sekolah, tetapi juga sebagai proses membangun kebiasaan positif yang dapat terbawa hingga anak tumbuh dewasa.

Selain aspek olahraga, bahwa senam anak juga memiliki dimensi seni. Gerakan yang dilakukan mengikuti musik, ekspresi wajah, kekompakan, serta kreativitas penampilan merupakan bagian yang membuat kegiatan menjadi lebih menarik. Umul Aiman, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNIKI Bireuen, memberikan perspektif dari bidang seni pertunjukan.

Seni menjadikan Senam Lebih Kreatif dan Integrasi antara gerak dan seni dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan bagi anak. Musik membantu anak mengenali irama, sementara gerakan membantu mengembangkan koordinasi tubuh. Ketika kedua unsur itu dipadukan dalam sebuah penampilan kelompok, anak memperoleh pengalaman untuk berekspresi sekaligus belajar tampil secara percaya diri.

Peran Dosen sebagai Juri dan Bentuk Pengabdian Akademik bagi dosen FKIP UNIKI Bireuen yang sebagai juri tidak hanya berkaitan dengan penilaian perlombaan. Lebih luas, kegiatan tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.

Dosen memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan kompetensi akademiknya di tengah masyarakat. Keterlibatan dalam kegiatan pendidikan, olahraga, seni, dan pembinaan anak menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu yang dimiliki dosen.

Menghubungkan Kampus dengan Masyarakat,bahwa kehadiran dosen UNIKI dalam kegiatan ini di Kecamatan Makmur memperlihatkan adanya hubungan antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan masyarakat.

Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan akademik, tetapi juga dapat menjadi mitra bagi sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan.Selain dosen dapat berbagi pengalaman dan memberikan perspektif akademik yang mendukung peningkatan kualitas kegiatan pendidikan.

Dalam kegiatan anak usia dini, kompetisi idealnya tidak hanya berorientasi pada siapa yang memperoleh nilai tertinggi. Yang tidak kalah penting adalah memberikan pengalaman positif kepada anak. Selain senam dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar tampil, bergerak, bekerja sama, dan menikmati aktivitas bersama teman-temannya.

Kegiatan yang dikemas secara menyenangkan dapat memberikan pengalaman belajar yang positif dan membekas bagi anak. Anak belajar bahwa aktivitas fisik bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan kegiatan yang dapat dilakukan dengan penuh kegembiraan. Guru juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dalam menyusun aktivitas pembelajaran yang melibatkan gerakan dan musik.

Sinergi Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Seni dengan keterlibatan dua program studi di FKIP UNIKI dalam kegiatan itu menunjukkan bahwa pendidikan jasmani dan pendidikan seni memiliki ruang kolaborasi yang luas. Keduanya dapat dipadukan dalam kegiatan pembelajaran anak melalui pendekatan gerak, musik, permainan, kreativitas, dan ekspresi.

Pembelajaran Holistik cara pandang untuk Anak sebagai pendekatan mendukung gagasan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan kognitif. Anak juga perlu mendapatkan stimulasi pada aspek fisik, sosial, emosional, kreativitas, dan seni. Senam anak menjadi salah satu contoh kegiatan sederhana yang dapat mengintegrasikan beberapa aspek tersebut secara bersamaan.

Sebagai lembaga pendidikan bahwa tenaga kependidikan, FKIP Bireuen memiliki tanggung jawab untuk terus berinteraksi dengan satuan pendidikan dan masyarakat. Pengalaman lapangan semacam ini juga dapat menjadi masukan bagi pengembangan pembelajaran di lingkungan kampus. Kegiatan ini menunjukkan bahwa kompetensi dosen dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan jasmani dan seni.

Senam Anak Ceria dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan budaya hidup aktif dan kreatif kepada anak-anak. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan menyenangkan dapat membantu membangun kesadaran bahwa kesehatan perlu dijaga sejak usia dini. Pada saat yang sama, unsur seni dan kreativitas dalam senam membantu anak mengembangkan keberanian untuk berekspresi.

Harapan untuk Kegiatan Pendidikan Anak, bahwa kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan. Kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, pemerintah daerah, guru, orang tua, dan masyarakat dapat memperkuat penyelenggaraan kegiatan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Namun kehadiran akademisi juga dapat memberikan nilai tambah melalui pendekatan yang lebih terarah dan sesuai dengan prinsip pendidikan anak usia dini.

Support Kami dengan share artikel ini !

Shares

Tinggalkan Jejak dengan berkomentar

Belum ada komentar. jadilah yang pertama!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *