SD Negeri 1 Kuala menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui Hibah BIMA KEMENDIKTISAINTEK Tahun 2026 dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat – Pengabdian kepada Masyarakat Pemula.
Namun kegiatan ini yang dilaksanakan pada 25 Juli 2026 dengan mengangkat tema “Pendampingan Guru dalam Penyusunan Cerita Rakyat Aceh Bilingual sebagai Bahan Ajar Literasi Budaya di Sekolah Dasar.”
Program ini dirancang sebagai upaya meningkatkan kapasitas guru dalam menggali, menulis, mendokumentasikan, dan mengembangkan cerita rakyat Aceh bilingual, yaitu cerita yang disajikan dalam Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia.
Pendekatan tersebut memiliki nilai strategis karena cerita rakyat tidak hanya mengandung unsur hiburan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, moral, sosial, budaya, dan kearifan lokal yang dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran bagi peserta didik sekolah dasar.
Perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi generasi muda menghadirkan tantangan tersendiri bagi keberlangsungan budaya lokal. Cerita rakyat sumber literasi budaya yang sebelumnya diwariskan secara lisan berpotensi semakin jarang dikenal apabila tidak didokumentasikan dan diperkenalkan melalui media yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Oleh karena itu, kegiatan pendampingan guru menjadi salah satu strategi untuk mempertemukan pendidikan, literasi, bahasa, sastra, dan pelestarian budaya Aceh dalam satu kegiatan pembelajaran.
Guru tidak hanya diarahkan untuk memahami cerita rakyat sebagai materi bacaan, tetapi juga dilatih menjadi penggali sekaligus penulis cerita yang berasal dari lingkungan budaya masyarakat.
Keterlibatan dosen dan mahasiswa memberikan ruang kolaborasi dalam pelaksanaan pengabdian. Dosen berperan dalam memberikan pendampingan akademik dan teknis, sedangkan mahasiswa turut membantu proses pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Selain kolaborasi yang sekaligus mencerminkan implementasi Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menghubungkan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Tahapan Penyusunan Cerita Rakyat Aceh Bilingual mulai menggali Cerita dari Lingkungan Masyarakat.Tahap awal pendampingan diarahkan pada kemampuan guru untuk mengidentifikasi cerita rakyat yang berkembang di lingkungan masyarakat.
Guru didorong untuk menggali cerita dari sumber-sumber lokal, seperti orang tua, tokoh masyarakat, sesepuh desa, serta lingkungan keluarga. Tahapan ini penting agar cerita yang ditulis memiliki keterkaitan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Aceh.
Dengan menentukan Tema, Tokoh, dan Alur Cerita sebagai awal memperoleh bahan cerita, guru kemudian didampingi untuk menentukan tema, tokoh, latar, konflik, serta alur cerita.
Penyusunan unsur cerita dilakukan secara sistematis sehingga cerita rakyat yang dihasilkan tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga memiliki struktur narasi yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran.
Menyusun Naskah dalam Dua Bahasa mulai dari tahap berikutnya adalah mengembangkan cerita dalam format bilingual. Selain Cerita disusun menggunakan Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia sehingga peserta didik dapat memperoleh pengalaman literasi sekaligus mengenal kosakata dan struktur bahasa daerah.
Pendekatan bilingual juga dapat menjadi media untuk memperkenalkan Bahasa Aceh kepada generasi muda dengan cara yang lebih kontekstual.
Dalam pelaksanaan kegiatan ini yang diketua tim, oleh Cut Santika, M.Pd., menekankan bahwa pendokumentasian cerita rakyat merupakan hal bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya Aceh.

Menurutnya, masih terdapat banyak cerita rakyat Aceh yang berkembang melalui tradisi lisan dan belum terdokumentasikan secara optimal dalam bentuk tulisan.
Karena itu, guru memiliki posisi strategis sebagai pendidik sekaligus bagian dari masyarakat yang dapat membantu mengangkat kembali cerita-cerita tersebut menjadi sumber literasi.
Melalui kegiatan ini, cerita rakyat diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari ingatan masyarakat, tetapi dapat diwariskan kepada peserta didik melalui bahan bacaan yang lebih terstruktur.
Aneuk Aceh Caroeng sebagai Platform Digital karena salah satu inovasi penting dalam kegiatan PkM ini adalah pengembangan website “Aneuk Aceh Caroeng”.
Selain Platform tersebut dirancang sebagai wadah digital untuk menghimpun, mendokumentasikan, dan memperkenalkan cerita rakyat Aceh kepada masyarakat yang lebih luas.
Digitalisasi Cerita Rakyat Aceh Perlu website untuk mudah memberikan peluang Viral agar cerita rakyat yang telah ditulis oleh guru tidak berhenti sebagai dokumen atau naskah cetak. Cerita dapat dikembangkan menjadi sumber literasi digital yang dapat diakses oleh guru, peserta didik, orang tua, mahasiswa, peneliti, serta masyarakat umum.
Dengan demikian,bahwa digitalisasi menjadi salah satu strategi untuk memperluas jangkauan pelestarian budaya. Selain Teknologi sebagai Sarana Pelestarian Budaya yang perlu memanfaatkan teknologi digital yang menunjukkan pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara-cara konvensional semata.
Kegiatan pendampingan bagi Guru dan Sekolah untuk memberikan manfaat dalam meningkatkan pemahaman guru mengenai pentingnya cerita rakyat sebagai sumber literasi budaya.
Sebelum pemanfaatan cerita rakyat Aceh sebagai bahan literasi di sekolah masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebagian cerita masih diwariskan secara lisan, sementara kemampuan guru dalam menggali dan mengembangkan cerita menjadi bahan ajar juga masih membutuhkan penguatan.
Setelah memperoleh pendampingan, guru memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai proses menggali ide, menyusun cerita, mengembangkan karakter dan alur, serta menyajikan cerita dalam format bilingual.
Keterampilan tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menghasilkan bahan ajar yang kreatif, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar.
Penguatan Literasi Budaya Berbasis Kearifan Lokal digunakan untuk cerita rakyat Aceh bilingual sebagai bahan ajar memberikan peluang untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.
Peserta didik dapat belajar membaca dan memahami cerita sekaligus mengenal nilai-nilai budaya yang terdapat di dalamnya. Nilai seperti gotong royong, kejujuran, keberanian, tanggung jawab, penghormatan kepada orang tua, dan kepedulian terhadap masyarakat dapat dikaji melalui cerita.
Dengan demikian, literasi budaya tidak hanya berorientasi pada kemampuan mengenal budaya, tetapi juga membantu peserta didik memahami nilai dan identitas yang terdapat dalam lingkungan sosialnya.
Kegiatan PkM di SD Negeri 1 Kuala menunjukkan bahwa pelestarian bahasa dan budaya Aceh(local) dapat dilakukan melalui sinergi antara guru, perguruan tinggi, mahasiswa, sekolah, masyarakat, dan teknologi digital.

Cerita rakyat yang sebelumnya lebih banyak hidup dalam tradisi lisan dapat mulai didokumentasikan melalui tulisan. Selanjutnya, karya tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan literasi digital melalui website Aneuk Aceh Caroeng. Pendekatan tersebut membuat proses pelestarian budaya menjadi lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Transformasi cerita rakyat dari tradisi lisan menuju bahan literasi digital bukan berarti menghilangkan nilai tradisionalnya. Sebaliknya, proses tersebut dapat menjadi strategi untuk memastikan warisan budaya tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Cerita rakyat tetap memiliki akar budaya lokal, sementara media penyampaiannya disesuaikan dengan perkembangan teknologi digitalisasi yang dapat memudahkan viral informasi dan penyampaian data serta penyimpanan data.





Users Today : 316
Users Yesterday : 323
This Month : 8058
This Year : 65324
Total Users : 70243
Views Today : 1718
Total views : 312300
Who's Online : 2
Tinggalkan Jejak dengan berkomentar
Belum ada komentar. jadilah yang pertama!