Pendampingan Produksi Tikar Seuke di Gampong Meuse, Upaya Bangkitkan Kearifan Lokal Pascabanjir

Pendampingan Produksi Tikar Seuke di Gampong Meuse, Upaya Bangkitkan Kearifan Lokal Pascabanjir
Bireuen, dailyinews.com -

Upaya membangkitkan kembali semangat masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan budaya lokal dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Gampong Meuse, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen.

Kegiatan yang berlangsung pada hari Sabtu, 1 Agustus 2026 itu mengangkat tema “Pendampingan Produksi Tikar Seuke Aceh Berbasis Kearifan Lokal untuk Pemberdayaan Masyarakat Gampong Meuse Pasca Banjir Bandang.”

Program ini yang di Danai oleh KEMENDIKTISAINTEK BIMA Tahun 2026 dan dirancang sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat setelah menghadapi dampak banjir bandang. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berorientasi pada aspek keterampilan, tetapi juga mengintegrasikan unsur sosial, budaya, pemberdayaan, dan pelestarian kearifan lokal.

Salah satu potensi yang dikembangkan adalah tikar seuke Aceh, sebuah kerajinan tradisional yang memiliki nilai budaya sekaligus berpotensi menjadi aktivitas produktif masyarakat.

Bencana dapat memberikan dampak yang luas terhadap kehidupan masyarakat. Selain memengaruhi lingkungan dan aktivitas ekonomi yang sekarang ini kembali bersemangat, kondisi pascabencana itu juga dapat mengubah pola interaksi sosial dan aktivitas sehari-hari warga.

Namun proses pemulihan masyarakat tidak hanya membutuhkan dukungan dalam bentuk pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan kegiatan yang mampu mengembalikan semangat, kebersamaan, dan kepercayaan diri masyarakat. Kegiatan produksi tikar seuke di Gampong Meuse menjadi salah satu alternatif aktivitas produktif yang dapat dilakukan secara bersama-sama.

Tim pengabdian melihat bahwa masyarakat memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai modal pemberdayaan yang sifatnya kearifan lokal. Salah satunya adalah pengetahuan dan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Pemanfaatan kearifan lokal dalam kegiatan pemberdayaan ini memiliki nilai penting karena masyarakat tidak harus memulai dari sesuatu yang sepenuhnya baru. Sebaliknya, pengetahuan yang telah mereka miliki dapat dikembangkan melalui pendampingan, inovasi, dan penguatan kapasitas.

Tim Pengabdian dampingi Produksi Tikar Seuke, bahwa kegiatan ini diketuai oleh Elfina, M.Pd., dengan anggota tim Sarah Nadia, M.Pd. dan Venni Arviani, M.Pd. Program ini yang di Danai oleh KEMENDIKTISAINTEK BIMA Tahun 2026 disini terlibat mahasiswa, yaitu Salwa Nabila dan Nuri Mahera. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pengabdian karena memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda mengenai kehidupan masyarakat serta pentingnya pelestarian budaya lokal.

Namun Tim pengabdian melakukan pendampingan secara bertahap dengan menggabungkan penyampaian materi, diskusi, praktik, dan interaksi langsung dengan masyarakat karena memberikang ruang kepada masyrakat berorganisasi dan kreatif.

Tim bersama warga berdiskusi mengenai keberadaan tikar seuke, nilai budaya yang terkandung di dalamnya, serta pengalaman masyarakat dalam membuat kerajinan tradisional tersebut. Diskusi ini menjadi ruang untuk menggali kembali pengetahuan lokal yang mungkin mulai jarang dipraktikkan.

Pengenalan Bahan dan Teknik Produksi Tahap berikutnya adalah pengenalan bahan atau material serta proses pembuatan tikar seuke. Selain pendampingan dilakukan dengan pendekatan partisipatif. Pengetahuan tim tidak ditempatkan sebagai satu-satunya sumber pembelajaran, tetapi dipadukan dengan pengalaman masyarakat yang telah mengenal tradisi pembuatan tikar.

Pendekatan itu memungkinkan terjadi pertukaran pengetahuan antara tim pengabdian dan masyarakat. Namun praktik bersama ini setelah memperoleh pemahaman mengenai proses produksi, masyarakat mengikuti praktik secara langsung.

Warga bekerja bersama, saling membantu, dan berbagi pengalaman selama proses pembuatan tikar. Aktivitas tersebut menciptakan suasana interaksi yang positif serta memperkuat semangat gotong royong.

Bahwa Tikar Seuke memiliki Nilai Budaya yang diberdayakan  oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat yaitu Elfina, M.Pd., menjelaskan bahwa tikar seuke merupakan bagian dari warisan kearifan lokal yang perlu dipertahankan dan program ini yang di Danai oleh KEMENDIKTISAINTEK BIMA Tahun 2026.

Pendampingan produksi tikar seuke bukan semata-mata bertujuan menghasilkan sebuah produk kerajinan, tetapi juga menjadi sarana untuk menghidupkan kembali aktivitas positif masyarakat setelah menghadapi kondisi pascabanjir,menurutnya.

Melalui kegiatan ini, bahwa masyarakat diharapkan dapat mempertahankan keterampilan tradisional sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki secara berkelanjutan.

Peran Mahasiswa dalam Kegiatan Pengabdian Kehadiran Salwa Nabila dan Nuri Mahera yang turut memperkuat pelaksanaan kegiatan. Karena Mahasiswa terlibat dalam berbagai aktivitas, mulai dari persiapan kegiatan, membantu proses pendampingan warga, hingga dokumentasi pada program yang di Danai oleh KEMENDIKTISAINTEK BIMA Tahun 2026 .

Kegiatan pengabdian memberikan pengalaman pembelajaran yang berbeda bagi mahasiswa. Mereka dapat melihat secara langsung kondisi masyarakat serta memahami bahwa ilmu pengetahuan dan pendidikan dapat memberikan manfaat melalui kegiatan nyata.

Mahasiswa juga memperoleh kesempatan untuk mempelajari pentingnya komunikasi, kerja sama, kepedulian sosial, dan pelestarian budaya. Pengalaman ini dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa agar lebih peka terhadap persoalan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Tikar seuke sebagai warisan Budaya Aceh yang memiliki nilai lebih dari sekadar produk kerajinan. Didalam proses pembuatannya terdapat pengetahuan lokal, keterampilan, ketekunan, dan nilai kebersamaan yang diwariskan antargenerasi.

Perubahan gaya hidup dan perkembangan produk modern dapat menyebabkan kerajinan tradisional semakin jarang diproduksi. Karena itu, dokumentasi, pelatihan, dan pendampingan menjadi penting untuk menjaga Tradisi agar tidak hilang.

Keterlibatan generasi muda juga diperlukan agar pengetahuan mengenai tikar seuke tidak berhenti pada generasi tertentu. Dengan demikian, kegiatan di Gampong Meuse dapat menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan tradisi lokal dengan proses pemberdayaan masyarakat modern.

Memperkuat Kebersamaan Masyarakat Gampong Meuse merupakan salah satu manfaat penting bagi kegiatan ini adalah terciptanya ruang interaksi bagi warga. Setelah menghadapi situasi pascabanjir, kegiatan produksi tikar seuke memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk kembali berkumpul, berkomunikasi, dan bekerja bersama.

Aktivitas ini dapat memperkuat hubungan sosial dan menumbuhkan kembali semangat gotong royong. Selain kegiatan produktif berbasis budaya juga memberikan pesan bahwa masyarakat memiliki potensi untuk bangkit melalui kekuatan yang berasal dari lingkungan mereka sendiri.

Kegiatan Pendampingan Produksi Tikar Seuke Aceh berbasis Sosial dan Budaya menunjukkan bahwa pemulihan masyarakat pascabencana dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih luas.

Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan perbaikan rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur, tetapi juga perlu memperhatikan aspek sosial, ekonomi, psikologis, serta budaya masyarakat.

Kearifan lokal dapat menjadi sumber kekuatan masyarakat dalam proses pemulihan. Ketika masyarakat kembali melakukan aktivitas budaya secara bersama-sama, muncul ruang untuk membangun komunikasi dan optimisme.

Dalam konteks ini, bahwa tikar seuke dapat menjadi simbol sebagai warisan budaya bukan hanya sesuatu yang perlu dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat.

Disamping Tim pengabdian berharap kegiatan yang dilaksanakan pada 1 Agustus 2026 ini dapat menjadi awal dari program pemberdayaan yang di Danai oleh KEMENDIKTISAINTEK BIMA Tahun 2026 untuk berkelanjutan di Gampong Meuse di Kabupaten Bireuen.

Masyarakat diharapkan semakin termotivasi untuk menjaga keterampilan membuat tikar seuke sekaligus mengembangkan kreativitas dalam menghasilkan produk berbasis budaya lokal.

Selain pengembangan dapat diarahkan pada peningkatan kualitas produk, dokumentasi proses produksi, penguatan desain, pengemasan, promosi, serta pengenalan produk kepada pasar yang lebih luas.

Dengan pengembangan ini yang tepat, bahwa kerajinan tradisional tidak hanya dapat dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari aktivitas ekonomi kreatif masyarakat.

Support Kami dengan share artikel ini !

Shares

Tinggalkan Jejak dengan berkomentar

Belum ada komentar. jadilah yang pertama!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *