Bahwa Internasionalisasi perguruan tinggi tidak hanya diwujudkan melalui kerja sama akademik, penelitian, dan pertukaran mahasiswa, tetapi juga melalui diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas lokal kepada masyarakat dunia. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan kekayaan budaya daerah sebagai bagian dari warisan bangsa yang bernilai universal.
Selain Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh (PBSA), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen menunjukkan komitmennya dengan menghadirkan Seumapa pada forum internasional di INTI International University Malaysia pada 15 Juli 2026.

Penampilan tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan akademik dan budaya yang diikuti delegasi UNIKI di Malaysia. Tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, Seumapa yang dibawakan mahasiswa PBSA menjadi media komunikasi budaya yang memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal Aceh kepada sivitas akademika internasional.
Selanjutnya melalui syair yang santun, penuh makna, dan diselingi humor khas masyarakat Aceh, para mahasiswa berhasil membangun suasana hangat yang mempererat hubungan persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia sebagai bangsa serumpun.
Keikutsertaan mahasiswa dalam forum internasional tersebut mencerminkan implementasi pendidikan berbasis budaya yang mengintegrasikan kompetensi akademik, pelestarian bahasa daerah, serta penguatan karakter sebagai duta budaya Indonesia.
Seumapa sebagai Warisan Sastra Lisan Aceh, selain Seumapa merupakan salah satu bentuk sastra lisan Aceh yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki fungsi penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Tradisi ini lazim digunakan sebagai media penyambutan tamu, pembukaan acara adat, pernikahan, maupun kegiatan seremonial lainnya.
Bahwa keistimewaan Seumapa terletak pada penggunaan bahasa Aceh yang santun, pemilihan diksiyang indah, irama yang harmonis, serta kandungan nilai moral, etika, dan kearifan lokal. Oleh karena itu, Seumapa tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan budaya yang memperkuat identitas masyarakat Aceh.
Di tengah arus globalisasi, bahwa pelestarian Seumapa menjadi tantangan sekaligus peluang. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan promosi budaya pada tingkat nasional maupun internasional.
Penampilan Seumapa Mahasiswa PBSA FKIP UNIKI di Malaysia, merupakan momentum bersejarah yang diwujudkan melalui penampilan tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh FKIP UNIKI yang membawakan Seumapa di lingkungan INTI International University Malaysia pada 15 Juli 2026.
Disamping itu, Seumapa yang ditampilkan mengangkat tema perjalanan mahasiswa dari Tanah Rencong menuju Malaysia untuk mengikuti kegiatan akademik internasional. Narasi yang dibangun menggambarkan semangat belajar, tekad mengembangkan ilmu pengetahuan, serta kebanggaan membawa nama Universitas Islam Kebangsaan Indonesia di forum internasional.
Selain Syair demi syair disampaikan menggunakan bahasa Aceh yang komunikatif, santun, dan sarat makna. Unsur humor khas masyarakat Aceh yang disisipkan dalam penyampaian menjadikan suasana lebih hidup sehingga mampu menarik perhatian para dosen, mahasiswa, serta tamu undangan yang hadir. Penampilan tersebut memperlihatkan bahwa sastra lisan Aceh tetap relevan dan mampu menjadi media komunikasi budaya yang diterima oleh masyarakat internasional.
Dengan bimbingan Akademik dalam Pelestarian Budaya,maka keberhasilan mahasiswa dalam membawakan Seumapa tidak terlepas dari pembinaan intensif yang dilakukan oleh dosen senior Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh, bahwa Marzuki Umar, M.Pd. Beliau membimbing mahasiswa mulai dari penyusunan naskah, pemilihan kosakata, penyesuaian struktur bahasa Aceh, hingga teknik penyampaian yang tetap memperhatikan nilai estetika dan etika budaya.
Pendekatan akademik tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui praktik pertunjukan semata, tetapi harus didukung oleh kajian ilmiah mengenai bahasa, sastra, sejarah, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Melalui proses pembimbingan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menghafal syair, tetapi juga memahami filosofi Seumapa sebagai bagian dari identitas budaya Aceh.
Selain peran Ketua Program Studi dalam Internasionalisasi Budaya Aceh,bahwa kegiatan ini turut didampingi oleh Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh FKIP UNIKI, Cut Santika, M.Pd., yang juga menjadi bagian dari delegasi akademik UNIKI ke Malaysia.
Menurut beliau, keikutsertaan mahasiswa dalam forum internasional merupakan implementasi visi program studi dalam menginternasionalkan bahasa dan budaya Aceh melalui jalur akademik.
Beliau menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta kegiatan, melainkan sebagai duta budaya yang membawa identitas Aceh ke tingkat global. Melalui Seumapa, mahasiswa membuktikan bahwa bahasa daerah memiliki nilai ilmiah, estetika, dan budaya yang mampu berdialog secara sejajar dengan berbagai budaya dunia.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian bahasa daerah bukanlah upaya yang bersifat lokal semata, tetapi juga merupakan kontribusi terhadap keberagaman budaya dunia.
Diplomasi Budaya melalui Sastra Lisan, bahwa Sastra lisan memiliki kekuatan sebagai media diplomasi budaya karena mampu menyampaikan pesan-pesan persahabatan, perdamaian, dan nilai kemanusiaan secara lebih humanis.
Dalam penampilan Seumapa, kisah perjalanan mahasiswa dari Aceh menuju Malaysia menjadi simbol hubungan historis dan budaya antara dua wilayah yang memiliki akar peradaban Melayu yang sama. Namun melalui syair yang dibawakan, mahasiswa menyampaikan pesan mengenai.
Selain persaudaraan Serumpun Hubungan Aceh dan Malaysia telah terjalin sejak berabad-abad melalui jalur perdagangan, pendidikan Islam, dan pertukaran budaya. Seumapa menjadi simbol persaudaraan tersebut.Disamping semangat Menuntut Ilmu, bahwa narasi perjalanan mahasiswa menggambarkan bahwa pendidikan merupakan jembatan untuk membangun masa depan yang lebih baik sekaligus mempererat hubungan antarbangsa.

Namun Pelestarian Identitas Budaya, bahwa penampilan Seumapa menjadi bukti bahwa generasi muda tetap memiliki kepedulian terhadap bahasa dan sastra daerah sebagai bagian dari identitas bangsa. Selain dampak Akademik dan Budaya Kegiatan ini memberikan berbagai manfaat strategis, baik bagi mahasiswa maupun institusi.
Penguatan Kompetensi Mahasiswa Mahasiswa memperoleh pengalaman berbicara di forum internasional, meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya, serta mengembangkan rasa percaya diri.
Peningkatan Citra Institusi Partisipasi aktif dalam forum internasional memperkuat citra FKIP UNIKI sebagai institusi yang mendukung internasionalisasi pendidikan berbasis budaya lokal.
Pelestarian Bahasa Aceh Melalui forum internasional, bahasa Aceh memperoleh ruang yang lebih luas untuk dikenal oleh masyarakat dunia sehingga mendukung upaya pelestarian bahasa daerah.
Penguatan Jejaring Akademik Kegiatan di INTI International University Malaysia membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dalam bidang pendidikan, penelitian, pertukaran budaya, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kontribusi terhadap Pembangunan Berkelanjutan, bahwa kegiatan ini juga memberikan kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya,pendidikan berkualitas, melalui pembelajaran berbasis budaya dan pengalaman internasional, berkurangnya kesenjangan.
Selain memperkuat dialog lintas budaya dan penghargaan terhadap keberagaman, kota dan permukiman berkelanjutan, melalui pelestarian warisan budaya takbenda, kemitraan untuk mencapai tujuan, dan melalui penguatan kerja sama akademik antara uniki dan inti international university malaysia.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berdampak pada pengembangan kompetensi mahasiswa, tetapi juga mendukung agenda pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan dan pelestarian budaya.
Kesimpulan, bahwa penampilan Seumapa oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh FKIP Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) di INTI International University Malaysia pada 15 Juli 2026 merupakan bukti nyata bahwa bahasa dan sastra daerah memiliki peran penting dalam diplomasi budaya internasional. Melalui kisah perjalanan mahasiswa dari Aceh menuju Malaysia, Seumapa berhasil menyampaikan pesan persaudaraan, semangat menuntut ilmu, dan kebanggaan terhadap identitas budaya Aceh.
Selain keberhasilan itu didukung oleh pembinaan akademik dari Marzuki Umar, M.Pd. serta pendampingan Cut Santika, M.Pd. sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh FKIP UNIKI. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam melestarikan warisan budaya sekaligus menginternasionalkan bahasa daerah melalui jalur akademik.
Disamping kegiatan serupa diharapkan terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi internasionalisasi perguruan tinggi. Dengan memadukan keunggulan akademik dan kekayaan budaya lokal, mahasiswa tidak hanya menjadi lulusan yang unggul secara intelektual, tetapi juga mampu berperan sebagai duta budaya Aceh yang memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada masyarakat dunia.





Users Today : 561
Users Yesterday : 313
This Month : 874
This Year : 58140
Total Users : 63059
Views Today : 1630
Total views : 264233
Who's Online : 4
Tinggalkan Jejak dengan berkomentar
Belum ada komentar. jadilah yang pertama!