Editor:Yusri,S.Sos.,M.Si.,M.S
Sektor peternakan merupakan bagian penting dalam pembangunan peternakan dan pertanian nasional karena berperan sebagai penyedia sumber protein hewani serta penopang ekonomi masyarakat pedesaan.
Selain di berbagai wilayah Indonesia, bahwa ternak sapi tidak hanya berfungsi sebagai komoditas produksi, tetapi juga sebagai aset ekonomi keluarga yang memiliki nilai sosial dan budaya tinggi.
Namun demikian, keberlanjutan sektor peternakan menghadapi berbagai ancaman, salah satunya adalah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Penyakit ini dikenal sebagai penyakit viral akut yang sangat menular pada hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba.
Selanjutnya Penyebaran PMK berlangsung sangat cepat melalui kontak langsung antar ternak, peralatan kandang yang terkontaminasi, manusia, kendaraan pengangkut ternak, bahkan melalui udara dalam kondisi tertentu.
Kemunculan kembali wabah PMK di Indonesia pada tahun 2022 menimbulkan dampak luas terhadap sektor peternakan nasional. Banyak peternak mengalami kerugian ekonomi akibat penurunan produktivitas ternak, kematian anak sapi, serta pembatasan mobilitas perdagangan ternak.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia melakukan berbagai langkah strategis berupa vaksinasi massal, pengendalian lalu lintas ternak, serta edukasi penerapan biosekuriti kepada peternak.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung program pemerintah melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bahwa Kaprodi Peternakan UNIKI mengambil bagian aktif melalui pelaksanaan vaksinasi PMK berbasis praktik lapangan yang melibatkan mahasiswa secara langsung sebagai bagian pengabdian masyarakat.

Namun Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), PMK merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus genus Aphthovirus dari famili Picornaviridae. Penyakit ini memiliki tingkat morbiditas sangat tinggi meskipun tingkat kematian relatif rendah pada ternak dewasa.
Selain Gejala klinis PMK meliputi; Demam tinggi (40–41°C), Hipersalivasi, Luka lepuh pada mulut dan lidah, Lesi pada kaki dan kuku, Penurunan nafsu makan, Kepincangan. Pada ternak muda, virus PMK dapat menyebabkan gangguan jantung yang berujung kematian.
Dampak Ekonomi PMK, bagi peternak rakyat, seekor sapi merupakan bentuk investasi ekonomi jangka panjang. Ketika ternak terinfeksi PMK, dampak yang muncul antara lain; Penurunan berat badan. Produksi susu menurun. Gangguan reproduksi.
Disamping Tingginya biaya pengobatan. Kehilangan sumber pendapatan keluarga. Oleh sebab itu, vaksinasi menjadi langkah preventif utama dalam menekan kerugian ekonomi peternak.
Peran Strategis Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Sebagai institusi teknis pemerintah daerah, Disnakkeswan memiliki tanggung jawab utama dalam pengendalian penyakit ternak.
Selain Peran strategis lembaga ini meliputi: Surveilans dan deteksi dini penyakit. Pemeriksaan kesehatan ternak. Distribusi dan pelaksanaan vaksinasi. Edukasi peternak. Pengawasan lalu lintas ternak.

Kepala dinas, drh. Liza Rozana, secara aktif membangun koordinasi dengan Ketua Program Studi Peternakan UNIKI, Mhd. Taufiq Hadi Wijaya, S.Pt., M.Pt., guna memperkuat penanganan PMK berbasis kolaborasi akademik.
Peran Program Studi Peternakan dalam Pengendalian PMK, bahwa Program Studi Peternakan memiliki tanggung jawab akademik dalam menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang kesehatan dan manajemen ternak.
Disamping itu dalam konteks pengendalian PMK, peran prodi mencakup: Pendidikan; Namun Mahasiswa dibekali pengetahuan mengenai epidemiologi penyakit, biosekuriti, kesehatan hewan, serta manajemen produksi ternak berkelanjutan.
Selanjutnya bahwa Penelitian sangat penting: bahwa Dosen dan mahasiswa melakukan kajian terkait; Peningkatan imunitas ternak. Manajemen pakan pasca-infeksi. Sistem sanitasi kendang. Analisis ekonomi wabah PMK.
Namun ini Pengabdian kepada Masyarakat, bahwa Kegiatan vaksinasi menjadi bentuk nyata implementasi pengabdian masyarakat melalui pendampingan peternak secara langsung.
Pelaksanaan Kegiatan ini di Lokasi dan Waktu Kegiatan dilaksanakan di: Gampong Paloh Seulimeng, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen
Tanggal: 18 Februari 2026
Peserta Kegiatan terdiri dari Tim dokter hewan Disnakkeswan, Dosen Prodi Peternakan UNIKI, Mahasiswa Peternakan,Peternak local. Selain itu Tahapan Kegiatan; Koordinasi Lapangan, dan Pendataan populasi ternak dan kesiapan lokasi vaksinasi.
Selain itu Pemeriksaan Klinis dan Ternak diperiksa sebelum vaksin diberikan. Handling Ternak, bahwa Mahasiswa melakukan pengendalian posisi ternak secara aman. Pelaksanaan Vaksinasi, bahwa Vaksin diberikan oleh dokter hewan sesuai standar medis.
Disamping itu Pemberian Vitamin, dan bahwa Mahasiswa membantu penyuntikan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak. Edukasi Peternak, dan Sosialisasi sanitasi kandang dan pencegahan penyakit.
Bahwa Hasil dan Pembahasan, bahwa pelaksanaan vaksinasi menunjukkan beberapa capaian penting: Peningkatan Kompetensi Mahasiswa, dan Mahasiswa memperoleh pengalaman nyata dalam; Teknik restrain sapi,Prosedur vaksinasi,Manajemen kesehatan ternak Komunikasi penyuluhan.
Peningkatan Kesadaran Peternak, bahwa Peternak mulai memahami pentingnya: Vaksinasi rutin, Kebersihan kendang, dan Pelaporan dini penyakit.
Penguatan Kolaborasi Institusional, bahwa Kerja sama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi untuk meningkatkan efektivitas pengendalian PMK.
Implikasi terhadap Ketahanan Pangan Nasional, bahwa Pengendalian PMK memiliki hubungan erat dengan stabilitas pangan nasional. Daging dan susu merupakan sumber protein utama masyarakat. Apabila wabah tidak dikendalikan, maka produksi ternak akan menurun.
Selain itu harga pangan meningkat, dan melalui vaksinasi dan edukasi berkelanjutan, produktivitas ternak dapat dipertahankan sehingga mendukung ketahanan pangan nasional.
Selain itu, bahwa Pembelajaran ini Berbasis Experiential Learning, Kegiatan ini menerapkan konsep experiential learning, yaitu pembelajaran melalui pengalaman langsung.
Namun Mahasiswa tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga menghadapi kondisi nyata di lapangan. Model pembelajaran ini terbukti meningkatkan kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja sektor peternakan.
Selain Kontribusi terhadap Pembangunan Peternakan Berkelanjutan, bahwa Pelaksanaan vaksinasi PMK memberikan kontribusi pada: Perlindungan ekonomi peternak. Stabilitas produksi ternak. Pencegahan wabah penyakit.
Disamping Penguatan SDM peternakan, juga Peningkatan kesejahteraan Masyarakat. Kolaborasi akademisi dan pemerintah menjadi strategi penting dalam pembangunan peternakan modern dan berkelanjutan.
Dari uraian diatas, bahwa pelaksanaan vaksinasi PMK sapi Bali di lahan praktik lapangan peternakan UNIKI tahun 2026 merupakan bentuk nyata sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam pengendalian penyakit hewan menular strategis.

Namun Kegiatan ini tidak hanya menjaga kesehatan ternak, tetapi juga meningkatkan kompetensi mahasiswa serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya biosekuriti peternakan.
Bahwa Kontribusi Kolaborasi antara Program Studi Peternakan UNIKI dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Bireuen menjadi model implementasi pengabdian masyarakat berbasis praktik yang efektif dalam mendukung ketahanan pangan dan pembangunan peternakan nasional.
Selanjutnya Rekomendasi ini antara Pemerintah Bireuen dan UNIKI Bireuen menjadi catatan yang sangat penting bagi Program vaksinasi ini yang perlu dilaksanakan secara berkelanjutan. Edukasi biosekuriti harus diperluas kepada peternak rakyat.
Selain Kolaborasi perguruan tinggi–pemerintah perlu diperkuat. Mahasiswa UNIKI perlu terus dilibatkan dalam kegiatan kesehatan ternak lapangan.
Penulis:
Mhd. Taufiq Hadi Wijaya, S.Pt.,M.Pt
Kaprodi Peternakan FAFERTA Uniki Bireuen.
